KAMPUS PERS
KAMPUSPERS Jurnalistik Independen & Terpercaya

IRONI RATUSAN BANGKU KOSONG SEKOLAH DASAR (SD) NEGERI DI YOGYAKARTA

A
Admin Kampuspers 10 Agustus 2026, 23:25 WIB
2 min baca 7 views
IRONI RATUSAN BANGKU KOSONG SEKOLAH DASAR (SD) NEGERI DI YOGYAKARTA
"Dunia pendidikan di Kota Yogyakarta diwarnai fenomena ratusan bangku kosong di SD negeri akibat tingkat keterisian siswa baru yang hanya mencapai 79% dari daya tampung 3.700 kursi. Fenomena ini terjadi karena tren orang tua, termasuk dari keluarga prasejahtera penerima bantuan sosial, yang lebih memilih menyekolahkan anaknya ke SD swasta bonafide demi mendapatkan fondasi agama yang kuat dan kurikulum internasional sebagai bentuk investasi masa depan. Penurunan minat pada SD negeri ini kian terakselerasi akibat munculnya stigma "sekolah buangan" serta ketidakmerataan tata letak sekolah yang saling berdekatan, sehingga menjadi tantangan besar bagi Dinas Pendidikan untuk segera mengevaluasi pemerataan kualitas dan citra SD negeri di Yogyakarta."

KAMPUSPERS YOGYAKARTA (11/08/2026) Ratusan bangku di Sekolah Dasar (SD) negeri kosong menyelimuti dunia pendidikan di Yogyakarta, hanya diisi siswa baru mencapai 79 persen dari total daya tampung sekitar 3.700.

Sekretaris Komisi D DPRD Kota Yogyakarta, Solihul Hadi, mengungkapkan masyarakat kini cenderung memilih menyekolahkan anak ke SD swasta bonafide ketimbang SD negeri. Fakta di balik tren ini nyatanya tak serta merta terjadi di kalangan elit, tetapi justru sebagian warga yang termasuk dalam data kurang mampu.

“Saya sempat sampling dan cek data di Dinas Sosial. Ada warga penerima jaminan sosial, masuk desil kemiskinan, tapi anaknya sekolah di swasta mahal. Ini nyata,” ungkap Solihul, Selasa (30/6/2026).

Dalam keterangannya, banyak orang tua beralasan tidak memiliki warisan harta untuk anak, sehingga mereka bekerja keras agar anak bisa masuk sekolah yang dianggap berkualitas, terutama dengan fondasi agama yang kuat. Banyak dari mereka menyekolahkan putra-putrinya di SD swasta dengan kurikulum internasional atau branding khusus pendidikan agama.

Fenomena demikian makin menjadi setelah beredar stigma “sekolah buangan” yang melekat pada SD negeri kekurangan siswa. Kondisi geografis juga berpengaruh, di mana dalam satu RW bisa terdapat dua SD negeri berdekatan, dikelilingi sekolah swasta mapan.

Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi Dinas Pendidikan setempat untuk mengevaluasi pemerataan kualitas, branding, serta tata letak keberadaan SD negeri di Kota Yogyakarta agar kembali menjadi pilihan utama masyarakat.

Komentar Pembaca (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!