STIT DAARURRAHMAH SUBULUSSALAM GAGAS KONSENTRASI PENDIDIKAN KEPRAMUKAAN DI PERGURUAN TINGGI
KAMPUSPERS (06/09/2026) PENDIDIKAN - Pendidikan kepramukaan di Indonesia bersiap melompat ke level baru. Tak lagi sekadar ekstrakurikuler sekolah, pramuka kini digagas masuk ke dalam ruang akademik perguruan tinggi sebagai konsentrasi program studi (prodi) profesional.
Gagasan segar itu dicetuskan pendiri Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Daarurrahmah Sepadan yang juga Wali Kota (Walkot) Subulussalam, Rasyid Bancin.
Ketua Majelis Pembimbing Cabang (Ka Mabicab) Gerakan Pramuka Kota Subulussalam itu menilai, kepramukaan memiliki posisi strategis dalam ekosistem pendidikan.
Menurutnya, pramuka tidak semata-mata merupakan kegiatan ekstrakurikuler, tetapi bagian dari pendidikan yang berperan dalam pembentukan karakter, kepemimpinan, kedisiplinan, kemandirian, dan tanggung jawab peserta didik.
Pendidikan kepramukaan menyasar kelompok peserta didik SD, SMP, SMA atau sederajat, hingga satuan pendidikan di pondok pesantren dan perguruan tinggi.
Dengan pertimbangan itu, Rasyid menilai, dibutuhkan ruang akademik yang dapat menyiapkan sumber daya manusia (SDM) dengan kompetensi profesional dan landasan keilmuan untuk mengelola pendidikan kepramukaan di Gugus Depan.
“Saya menginginkan ada Prodi Pramuka. Saya melihat kebutuhan di lapangan, terutama bagaimana Gugus Depan dan satuan pendidikan membutuhkan pendidik yang benar-benar memahami dan mampu mengelola kepramukaan,” ujarnya
Pria yang akrab disapa Haji Rasyid Bancin atau HRB itu mengatakan, gagasan tersebut juga terinspirasi dari perkembangan sejumlah bidang lain.
Dia menjelaskan, sebelumnya ada bidang lain yang lebih dikenal sebagai bagian dari praktik pelayanan, lalu berkembang menjadi bidang akademik di perguruan tinggi. HRB mencontohkan, Manajemen Haji dan Umrah yang kini telah memiliki ruang sebagai prodi di perguruan tinggi Islam.
“Saya melihat, kebutuhan terhadap pengelolaan kepramukaan juga nyata. Oleh karena itu, perlu kita kaji bagaimana kepramukaan dapat dikembangkan dalam ruang akademik,” katanya.
HRB menegaskan, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat dapat menjadi salah satu dasar pengembangan bidang keilmuan di perguruan tinggi sepanjang memiliki landasan akademik dan regulasi yang jelas.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, HRB menyampaikan gagasan pembentukan prodi Kepramukaan kepada Ketua STIT Daarurrahmah Sepadan Andika Novriadi Cibro untuk dikaji secara mendalam dari aspek akademik dan regulasi pendidikan tinggi.
Andika menindaklanjutinya dengan membentuk dan memimpin tim perumus yang melibatkan sivitas akademika STIT Daarurrahmah Sepadan, pembina pramuka, akademisi, praktisi pendidikan, serta unsur pendidikan dayah.
Kajian dilakukan untuk melihat posisi pendidikan kepramukaan dalam sistem pendidikan nasional, peluang pengembangannya di perguruan tinggi, nomenklatur prodi yang tersedia, serta kesesuaiannya dengan regulasi pendidikan tinggi dan sistem akreditasi.
Andika memiliki pengalaman akademik dan praktis dalam bidang kepramukaan. Ia pernah memimpin Satuan Komunitas Gerakan Pramuka di Kwartir Daerah Aceh.
Tak hanya itu, disertasi doktoralnya mengangkat tema kepramukaan dan menghasilkan produk digital untuk mendukung penguatan pendidikan karakter di Gugus Depan pesantren.
Andika menjelaskan, Pendidikan Kepramukaan secara akademik sangat mungkin dikembangkan menjadi prodi, baik di perguruan tinggi umum maupun Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Namun, saat ini belum tersedia nomenklatur prodi yang secara khusus menetapkan Pendidikan Kepramukaan sebagai prodi tersendiri.
Penggunaan Nilai TKA Berpotensi Ditingkatkan di SNBP 2027 Menurutnya, pembentukan nomenklatur baru tersebut membutuhkan kebijakan di tingkat nasional dengan melibatkan kementerian terkait serta Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.
“Untuk menjadikan Pendidikan Kepramukaan sebagai prodi, diperlukan proses kebijakan dan regulasi yang melibatkan pihak-pihak terkait, termasuk kementerian yang berwenang dan Kwartir Nasional,” katanya.
Dengan demikian, kata Andika, prodi Pramuka merupakan sesuatu yang memungkinkan untuk diwujudkan di masa depan, tetapi terlebih dahulu membutuhkan dasar regulasi yang jelas.
Mengingat nomenklatur Prodi Pramuka yang belum tersedia, tim perumus kemudian mencari alternatif pengembangan yang tetap memiliki dasar akademik dan regulasi.
Hasil kajian menyimpulkan, Prodi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) merupakan pilihan yang paling memungkinkan untuk mengembangkan Pendidikan Kepramukaan sebagai konsentrasi.
Andika mengatakan, MPI memiliki fokus keilmuan pada pengelolaan pendidikan, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, kepemimpinan, pengembangan sumber daya manusia hingga pengelolaan program pendidikan.
“Kesimpulan dari perumusan kami, MPI merupakan pilihan yang paling memungkinkan. Pendidikan Kepramukaan dapat ditempatkan sebagai konsentrasi atau kekhasan dari prodi tersebut,” jelasnya.
Dengan konsep tersebut, MPI tetap menjadi prodi, sedangkan Pendidikan Kepramukaan ditempatkan sebagai konsentrasi atau kekhasan akademik. Konsep ini juga tidak menjadikan MPI sebagai Prodi Pramuka.
Pendidikan Kepramukaan ditempatkan sebagai pengembangan kompetensi khusus yang melengkapi kompetensi utama mahasiswa di bidang manajemen pendidikan.
Hasil kajian tim kemudian dituangkan dalam proposal pengembangan Prodi MPI konsentrasi Pendidikan Kepramukaan.
Andika mengatakan, proposal tersebut akan dibawa ke Kwartir Daerah Aceh untuk mendapatkan masukan dan dikaji lebih lanjut. “Di dalam proposal ini, kami menguraikan hasil kajian, mulai dari analisis kebutuhan, rancangan kurikulum, porsi mata kuliah kepramukaan, hingga potensi yang dapat diintegrasikan dengan Kwartir Gerakan Pramuka,” jelasnya.
Menurutnya, keterlibatan kwartir merupakan hal penting untuk memastikan pengembangan akademik kepramukaan tetap memiliki keterhubungan dengan kebutuhan dan sistem pembinaan gerakan pramuka.
Andika menambahkan, kepramukaan sebenarnya telah memiliki ruang dalam pendidikan tinggi Indonesia.
Sejumlah perguruan tinggi telah menyelenggarakan mata kuliah Kepramukaan dalam struktur kurikulumnya.
“Kepramukaan ditempatkan sebagai mata kuliah umum (MKU), dan pada struktur tertentu menjadi bagian dari kompetensi atau kekhasan prodi,” ungkapnya. Menurutnya, fakta tersebut menunjukkan bahwa kepramukaan memiliki keterkaitan yang kuat dengan pendidikan tinggi, meskipun belum memiliki nomenklatur sebagai prodi tersendiri.
Adapun MPI konsentrasi Pendidikan Kepramukaan diarahkan untuk menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi manajemen pendidikan sekaligus kemampuan dalam mengelola program kepramukaan.
Lulusan diharapkan mampu merancang, mengorganisasikan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengembangkan program kepramukaan di satuan pendidikan, mulai dari sekolah dasar, SMP, SMA atau sederajat hingga pondok pesantren. Andika mengatakan, pramuka merupakan bagian integral dari satuan pendidikan.
Andika mengatakan, pramuka merupakan bagian integral dari satuan pendidikan.
“Oleh karena itu, pengelolaannya juga membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi akademik dan kemampuan manajerial,” katanya. Subulussalam jadi pemantik Gagasan MPI konsentrasi Pendidikan Kepramukaan dinilai sebagai gebrakan akademik yang sangat memungkinkan untuk dikembangkan melalui sinergi berbagai pihak.
Pihak-pihak yang diharapkan terlibat, mulai dari perguruan tinggi, akademisi, praktisi pendidikan, pembina pramuka, hingga Kwartir Gerakan Pramuka. Bagi STIT Daarurrahmah Sepadan, gagasan tersebut tidak sekadar menghadirkan program akademik baru, tetapi merupakan upaya menjawab kebutuhan SDM yang mampu mengelola pendidikan kepramukaan secara profesional di satuan pendidikan.
Jika mendapat dukungan dan dirumuskan secara bersama dengan pihak-pihak terkait, gagasan tersebut berpotensi menjadi salah satu langkah awal untuk memperkuat hubungan antara pendidikan tinggi dan Gerakan Pramuka.
Dari Subulussalam, Aceh, gagasan tersebut diharapkan menjadi pemantik bagi perguruan tinggi lain di Indonesia untuk turut mengembangkan ruang akademik kepramukaan sesuai regulasi dan karakteristik masing-masing.
Dengan demikian, Subulussalam tidak hanya menjadi tempat sebuah gagasan lahir, tetapi dapat menjadi pemantik kelahiran gerakan akademik kepramukaan di perguruan tinggi Indonesia.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!