KAMPUS PERS
KAMPUSPERS Jurnalistik Independen & Terpercaya

LAHAN KUMUH SMPN 34 SURABAYA DISULAP JADI KAWASAN PRODUKTIF DAN RAIH PRESTASI KETAHANAN PANGAN

A
Admin Kampuspers 6 September 2026, 16:54 WIB
3 min baca 1 views
LAHAN KUMUH SMPN 34 SURABAYA DISULAP JADI KAWASAN PRODUKTIF DAN RAIH PRESTASI KETAHANAN PANGAN
"Lahan belakang SMP Negeri 34 Surabaya yang sebelumnya kumuh dan terbengkalai berhasil disulap menjadi kawasan produktif melalui gerakan Satria Spentipat Bersinar yang membudidayakan ikan, ternak, hingga beragam sayuran. Program pemanfaatan lahan yang diinisiasi Kepala Sekolah Wiwik Yulianti sejak 2025 ini tak hanya berfungsi sebagai media pembelajaran berbasis lingkungan dan pembentukan karakter siswa, tetapi juga membuktikan keberhasilannya lewat perhelatan Panen Raya Ketahanan Pangan pada Jumat (4/9/2026). Selain dihadiri oleh pihak Dinas Pendidikan Kota Surabaya dan Komite Sekolah, inovasi ketahanan pangan berbasis lingkungan ini turut mengantarkan SMPN 34 Surabaya meraih Juara II pada Festival Gugus Depan Produktif Kwarda Pramuka Jatim 2026."

KAMPUSPERS (06/09/2026) SURABAYA - Lahan belakang SMP Negeri 34 Surabaya yang sebelumnya kumuh, terbengkalai dan dipenuhi barang-barang tak terpakai, kini berubah menjadi kawasan produktif.

Beragam tanaman, ikan, ayam hingga jamur dibudidayakan dalam program ketahanan pangan sekolah yang dikemas melalui gerakan Satria Spentipat Bersinar.

Hasilnya terlihat dalam Panen Raya Ketahanan Pangan dan Lingkungan Hidup Sekolah yang digelar di SMPN 34 Surabaya, Jumat 4 September 2026.

Ada beberapa sektor yang dikembangkan di SMPN 34, yaitu di sektor perikanan, sekolah mengembangkan budidaya ikan lele dan nila. Sementara peternakan diisi ayam petelur dan ayam kampung.

Adapun lahan perkebunan menghasilkan berbagai komoditas, seperti cabai, tomat, terong bulat dan ungu, kacang panjang, labu putih, selada, pakcoy, petai, tanaman apotek hidup hingga jamur.

Kepala SMP Negeri 34 Surabaya Wiwik Yulianti mengatakan, pemanfaatan lahan tersebut dimulai sejak dirinya menjabat pada 2025. Lahan yang sebelumnya tidak termanfaatkan kemudian ditata dan dimaksimalkan menjadi kebun serta area peternakan sekolah.

“Lahan yang sebelumnya kumuh dan penuh barang tidak berguna kami manfaatkan. Selain mendukung ketahanan pangan sekolah, lahan ini juga menjadi media belajar bagi siswa,” ujar Wiwik.

Menurutnya, program tersebut sejalan dengan konsep Satria Spentipat Bersinar yang menjadi bagian dari upaya sekolah membangun karakter sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.

Satria dalam konsep umum merupakan kepanjangan dari Science, Art, Technology, Research, Innovation, dan Agriculture.

Namun, SMPN 34 Surabaya memberikan pemaknaan tersendiri terhadap istilah Satria. Yakni Santun dalam bekerja sama, Amanah dalam menjaga dan merawat bumi serta lingkungan, Tangguh menghadapi tantangan, Religius dengan mensyukuri hasil bumi, Inovasi dalam pengolahan lahan dan sumber daya manusia, serta Adaptif menghadapi perubahan.

Wiwik menambahkan, panen raya kali ini menjadi momentum istimewa. Sebab, selama ini panen dilakukan secara bergantian sesuai jenis komoditas. Kali ini seluruh hasil budidaya dapat dipanen bersama dalam satu kegiatan.

“Panen kali ini patut disyukuri. Tidak hanya sayuran, tetapi ikan, telur dan jamur juga bisa dipanen bersama,” katanya.

Panen raya tersebut turut dihadiri Winarto selaku pengawas dan Suyono dari Dinas Pendidikan Kota Surabaya, para guru, serta tiga perwakilan Komite SMPN 34 Surabaya. Kehadiran mereka menjadi bentuk apresiasi terhadap upaya sekolah mengembangkan ketahanan pangan berbasis lingkungan.

Prestasi SMPN 34 Surabaya semakin lengkap setelah pada Agustus 2026 sekolah tersebut mengikuti Festival Gugus Depan Produktif dan Ketahanan Pangan yang digelar Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Timur. Dalam ajang tersebut, SMPN 34 Surabaya berhasil meraih Juara II.

Penghargaan tersebut diterima saat upacara Hari Pramuka ke-65 di Unesa Surabaya dan diserahkan oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Capaian itu sekaligus menjadi bukti bahwa lahan sekolah yang dikelola secara kreatif tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga prestasi dan pengalaman belajar yang nyata bagi peserta didik.

Komentar Pembaca (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!