MENTERI PPPA TEGASKAN PENTINGNYA LINGKUNGAN AMAN DAN PERLINDUNGAN ANAK DEMI MEWUJUDKAN GENERASI EMAS 2045
KAMPUSPERS (25/09/2026) YOGYAKARTA - Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah saat ini, tetapi juga oleh bagaimana anak-anak dididik dan dilindungi. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI Arifatul Choiri Fauzi menilai lingkungan tumbuh anak menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi emas.
"Ketika anak tumbuh dalam lingkungan yang aman, penuh kasih sayang, dan mendukung perkembangan mereka, Indonesia sedang menyiapkan generasi yang berkualitas dan berkarakter untuk menyongsong Indonesia Emas 2045," kata Menteri PPPA di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jumat (25/9/2026).
Arifatul menyampaikan hal tersebut saat menjadi keynote speaker dalam Seminar Nasional dan Temu Alumni bertajuk "Transformasi Pendidikan Islam Anak Usia Dini Menuju Generasi Emas 2045: Kolaborasi Akademisi, Kebijakan Publik, dan Perlindungan Anak", di Yogyakarta.
Sepertiga Penduduk Indonesia Adalah Anak
Menurut Arifatul, pendidikan dan perlindungan anak tidak dapat dipisahkan dari masa depan bangsa. Besarnya proporsi anak dalam populasi Indonesia membuat pendidikan dan pengasuhan menjadi persoalan strategis.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kelompok anak usia 0–17 tahun mencapai sekitar 30,1 persen dari populasi Indonesia pada 2025.
Artinya, sekitar sepertiga penduduk Indonesia merupakan anak-anak. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya perhatian terhadap proses pendidikan, pengasuhan, sekaligus perlindungan anak.
"Anak memiliki posisi yang penting dan strategis untuk Indonesia 2045. Bagaimana Indonesia ke depan tergantung bagaimana kita mendidik dan mengasuh anak-anak kita pada hari ini," katanya.
Arifatul juga menyoroti persoalan kekerasan terhadap anak. Ia menyebut hasil penelitian menunjukkan satu dari dua anak atau 50 persen anak usia 13–17 tahun pernah mengalami kekerasan.
Karena itu, persoalan kesehatan mental anak juga perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius.
Kekerasan Anak Tak Hanya Berupa Fisik
Arifah mengingatkan kekerasan terhadap anak memiliki beragam bentuk, mulai dari kekerasan fisik, emosional, hingga seksual.
Kekerasan emosional, misalnya, dapat muncul melalui pola komunikasi sehari-hari yang oleh orang dewasa dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Namun, pola tersebut dapat memberikan dampak terhadap anak.
Menurut Arifatul, penanganan tidak boleh berhenti ketika korban ditemukan. Anak yang mengalami kekerasan perlu mendapatkan pendampingan agar dampaknya tidak terus berlanjut.
"Ketika menemukan korban, penanganannya harus sampai tuntas. Anak yang menjadi korban perlu mendapatkan pendampingan agar dampak kekerasan tidak berlanjut dan rantai kekerasan dapat diputus," katanya.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!