KAMPUS PERS
KAMPUSPERS Jurnalistik Independen & Terpercaya

WAKIL KETUA MPR RIGOK KAMPUS INKLUSIF JADI GERAKAN BERSAMA DAN MINTA LAYANAN DISABILITAS DIRESPON NYATA

A
Admin Kampuspers 8 September 2026, 09:41 WIB
2 min baca 2 views
WAKIL KETUA MPR RIGOK KAMPUS INKLUSIF JADI GERAKAN BERSAMA DAN MINTA LAYANAN DISABILITAS DIRESPON NYATA
"Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan bahwa upaya mewujudkan kampus inklusif di Indonesia harus menjadi gerakan bersama yang segera direalisasikan melalui langkah nyata, bukan sekadar komitmen regulasi dan pendanaan semata. Menurutnya, akses pendidikan tinggi bagi penyandang disabilitas saat ini masih sangat terbatas, mengingat data menunjukkan hanya 1,99 persen perguruan tinggi yang resmi menerima mahasiswa disabilitas dan hanya 0,2 persen yang memiliki pusat layanan disabilitas dari total 4.523 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Demi menjamin hak setiap anak bangsa untuk memperoleh pendidikan berkualitas, Lestari mendorong sosialisasi ekosistem inklusif secara masif, peningkatan kesiapan tenaga pendidik berperspektif inklusif, serta konsolidasi lintas pemangku kepentingan agar lahir sistem pendidikan tinggi yang adaptif, kolaboratif, dan ramah disabilitas."

KAMPUSPERS (08/09/2026) JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan upaya untuk mewujudkan kampus inklusif harus menjadi gerakan bersama dan segera direalisasikan, bukan sekadar regulasi saja.

Menurut dia, negara harus menjamin agar setiap anak bangsa bisa mendapatkan pendidikan. Untuk itu, sejumlah kendala untuk mewujudkan pendidikan yang inklusif harus segera diatasi dengan langkah nyata.

"Perlu langkah nyata untuk mengatasi berbagai kendala yang ada agar setiap anak bangsa, termasuk penyandang disabilitas, mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas," kata Lestari dalam keterangan diterima di Jakarta, Senin.

Berdasarkan data Center for Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta dan University of the West of England pada awal 2025, menurut dia, hanya ada 90 universitas atau 1,99 persen dari 4.523 perguruan tinggi di Indonesia yang secara resmi menerima mahasiswa penyandang disabilitas.

Sedangkan perguruan tinggi yang memiliki pusat layanan disabilitas, menurut dia, hanya terdapat 0,2 persen dari jumlah total perguruan tinggi di Indonesia. Bahkan, dia mengatakan hanya ada 8 perguruan tinggi yang menyediakan platform penerimaan khusus bagi mahasiswa disabilitas.

Dengan demikian, Lestari menilai akses dari sekitar 3.128 mahasiswa disabilitas yang tercatat di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) per Juni 2025, masih terbatas pada 282 kampus saja.

Menurut dia, angka tersebut sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah total penyandang disabilitas di Indonesia yang mencapai 17,9 juta jiwa.

Di sisi lain, dia pun menilai bahwa regulasi dan pendanaan saja tidak cukup untuk merealisasikan perguruan tinggi yang inklusif.

"Pemahaman tentang pentingnya ekosistem pendidikan inklusif harus disosialisasikan secara masif, termasuk kesiapan tenaga pendidik yang memiliki perspektif inklusif," kata Lestari.

Untuk itu, dia menilai semua pihak perlu menyatukan arah dan langkah dalam pengembangan ekosistem pendidikan tinggi.

Menurut dia, konsolidasi antar perguruan tinggi sangat penting untuk melahirkan sistem pendidikan yang tidak hanya inklusif, tetapi juga adaptif dan kolaboratif dalam menjawab tantangan zaman.

"Diperlukan sumbang pikiran dari para pemangku kepentingan dan masyarakat untuk merealisasikan strategi efektif dalam menjawab tantangan," ucapnya.

Komentar Pembaca (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!