SOLUSI GENERASI ROTAN, TIM DOSEN LUNCURKAN ITB SMART-NURSEY BACKPACK
A
Admin Kampuspers
8 Agustus 2026, 03:24 WIB
1 min baca
6 views
"Tim dosen FMIPA ITB yang dipimpin Acep Purqon merancang ITB Smart-Nursery Backpack, sebuah tas ransel penyemaian bibit rotan portable untuk membantu petani di Desa Nupabomba, Donggala, Sulawesi Tengah. Inovasi ini ditujukan untuk mengatasi rendahnya angka kelangsungan hidup (survival rate) bibit rotan di alam liar yang tidak melebihi 5 persen akibat tingginya kegagalan perkecambahan, serangan hama, dan kondisi lingkungan yang ekstrem. Karena Donggala menyuplai hampir 56 persen bahan baku rotan Indonesia yang merupakan pemasok 80 persen rotan dunia penggunaan tas ransel ini diharapkan dapat melindungi bibit selama mobilitas di medan hutan berat, meningkatkan tingkat kelangsungan hidup rotan, dan menjaga keberlanjutan pasokan komoditas bernilai tinggi tersebut."
BANDUNG (08/08/2026) Kreativitas dan Inovasi baru kembali datang dari TIM dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) membuat tas ransel khusus untuk penyemaian bibit rotan. Perancangan tas yang dinamakan ITB Smart-Nursery Backpack itu bertujuan membantu petani rotan di Desa Nupabomba, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.
Acep Purgon, selaku Ketua Tim, Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB itu mengatakan 80 persen produk rotan dunia berasal dari Indonesia, di mana bahan baku rotan terbanyak atau hampir 56 persen berasal dari Donggala, Sulawesi Tengah.
“Agar mereka dengan medan hutan yang berat bisa membawa bibit rotan untuk dibesarkan di alat ini untuk menaikkan tingkat kelangsungan hidupnya,” ucap ketua tim Acep Purqon kepada awak media, Senin, 27 Juli 2026.
Masalahnya, regenerasi rotan di alam menghadapi tantangan serius, terutama pada fase perkecambahan atau germinasi dan pertumbuhan awal. “Banyak biji gagal berkecambah, sementara bibit muda yang tumbuh tanpa perlindungan rentan terhadap serangan hama dan tekanan lingkungan”, ulas Acep.
Kondisi tersebut menyebabkan tingkat keberhasilan hidup (survival rate) bibit rotan di habitat alami umumnya tidak melebihi 5 persen sehingga mengancam keberlanjutan rotan sebagai sumber daya yang bernilai ekologis sekaligus ekonomis.
Acep Purgon, selaku Ketua Tim, Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB itu mengatakan 80 persen produk rotan dunia berasal dari Indonesia, di mana bahan baku rotan terbanyak atau hampir 56 persen berasal dari Donggala, Sulawesi Tengah.
“Agar mereka dengan medan hutan yang berat bisa membawa bibit rotan untuk dibesarkan di alat ini untuk menaikkan tingkat kelangsungan hidupnya,” ucap ketua tim Acep Purqon kepada awak media, Senin, 27 Juli 2026.
Masalahnya, regenerasi rotan di alam menghadapi tantangan serius, terutama pada fase perkecambahan atau germinasi dan pertumbuhan awal. “Banyak biji gagal berkecambah, sementara bibit muda yang tumbuh tanpa perlindungan rentan terhadap serangan hama dan tekanan lingkungan”, ulas Acep.
Kondisi tersebut menyebabkan tingkat keberhasilan hidup (survival rate) bibit rotan di habitat alami umumnya tidak melebihi 5 persen sehingga mengancam keberlanjutan rotan sebagai sumber daya yang bernilai ekologis sekaligus ekonomis.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!