KAMPUS PERS
KAMPUSPERS Jurnalistik Independen & Terpercaya

MAHASISWA ITB GAGAS KONSEP 'CCS-READY WELL' DI FORUM INTERNASIONAL BALI, DUKUNG TARGET NET ZERO EMISSION

A
Admin Kampuspers 27 Agustus 2026, 04:44 WIB
4 min baca 2 views
MAHASISWA ITB GAGAS KONSEP 'CCS-READY WELL' DI FORUM INTERNASIONAL BALI, DUKUNG TARGET NET ZERO EMISSION
"Dua mahasiswa Teknik Perminyakan ITB, Ilham Rezy Saputra dan Felix Marco Efendi, bekerja sama dengan alumnus sekaligus praktisi industri Galih Cahyono, berhasil menorehkan prestasi internasional dengan mempresentasikan karya ilmiah pada konferensi SPE/IADC Asia Pacific Drilling Technology 2026 di Bali (5–6 Agustus 2026). Penelitian mereka menawarkan konsep inovatif CCS-Ready Well, yaitu strategi perancangan dan konversi sumur konvensional minyak/gas menjadi sumur injeksi karbon (CO2) yang visioner, efisien, dan tetap menjaga well barrier integrity. Dengan tambahan biaya yang relatif terjangkau sebesar 25–35% dibanding sumur konvensional, pendekatan ini berpotensi besar menekan emisi karbon dan mendukung target net zero emission secara global maupun nasional."

KAMPUSPERS (27,08,2026) BALI - Mahasiswa Program Studi Teknik Perminyakan, Institut Teknologi Bandung (ITB), Ilham Rezy Saputra dan Felix Marco Efendi, menorehkan jejak di forum internasional SPE/IADC Asia Pacific Drilling Technology 2026 yang digelar di The Westin Resort Nusa Dua, Bali, pada 5-6 Agustus 2026.

Mereka menyampaikan presentasi karya ilmiah, yang tidak hanya menampilkan inovasi akademik, tetapi juga kolaborasi strategis dengan praktisi industri.

Penelitian tersebut merupakan buah sinergi yang kuat bersama Galih Cahyono, yang juga merupakan alumnus Teknik Perminyakan ITB yang kini telah terjun dan berkiprah sebagai profesional di bidang drilling.

Konferensi yang diselenggarakan oleh Society of Petroleum Engineers (SPE) dan International Association of Drilling Contractors (IADC) tersebut menjadi forum bagi mahasiswa, akademisi, serta pelaku industri dari kawasan Asia Pasifik untuk bertukar pengetahuan mengenai perkembangan teknologi dan inovasi dalam bidang drilling engineering.

Dalam konferensi tersebut, keduanya membawakan karya yang mengangkat strategi konversi sumur konvensional oil and gas menjadi sumur injeksi karbon dioksida (CO2) untuk kebutuhan Carbon Capture and Storage (CCS).

Penelitian tersebut berfokus pada penyusunan persyaratan teknis untuk memastikan integritas sumur injeksi CCS, meliputi strategi desain skematik sumur, desain cement, pemilihan material untuk tubular dan seal, hingga analisis korosi.

Dua strategi pengembangan dievaluasi berdasarkan persyaratan teknis sumur injeksi CCS dan aspek well barrier integrity. Strategi yang menjadi novelty dalam penelitian ini adalah konsep CCS-Ready Well, yaitu sumur yang dirancang sejak awal untuk mengakomodasi dua fase pengembangan, yaitu fase produksi dan fase injeksi CO2, sehingga mencakup siklus pengembangan sumur secara lebih menyeluruh dibandingkan pendekatan konvensional yang hanya dirancang untuk salah satu tujuan produksi atau injeksi saja.

Evaluasi teknis kemudian dilanjutkan dengan analisis ekonomi terhadap strategi CCS-Ready, yang menunjukkan bahwa strategi ini hanya memerlukan tambahan biaya sekitar 25-35% dibandingkan sumur produksi konvensional.

Dengan demikian, konsep CCS-Ready Well berpotensi memberikan pendekatan yang lebih efisien, ekonomis, dan visioner dalam mendukung pengembangan proyek injeksi CO2 di masa mendatang.

Ketertarikan untuk mengangkat topik tersebut berangkat dari visi keduanya sebagai mahasiswa Teknik Perminyakan untuk terus mendorong inovasi yang relevan dengan kebutuhan industri.

Teknologi CCS dinilai memiliki potensi strategis dalam mendukung upaya pengurangan emisi karbon serta pencapaian target net zero emission, baik secara global maupun nasional.

Melalui penelitian yang berjudul ‘Design and Conversion Strategies for Transitioning Conventional Wells into CCS Injection Wells : A Cost-Effective and Integrity-Focused CCS-Ready Approach’, kami berupaya menghadirkan sebuah pendekatan yang visioner.

Kami tidak lagi hanya berfokus pada fase produksi semata, melainkan sudah merancang siklus hidup sumur pasca-produksi. Fokus kami adalah melihat bagaimana infrastruktur sumur dapat dikembangkan untuk mendukung kebutuhan penyimpanan karbon di masa depan, dengan tetap memprioritaskan aspek keselamatan, integritas sumur, dan kelayakan ekonomi,” kata Ilham.

Menurut Ilham dan Felix, pengembangan teknologi CCS di Indonesia tidak hanya membutuhkan inovasi dari sisi teknis, tetapi juga dukungan ekosistem yang memungkinkan teknologi tersebut dapat diterapkan secara nyata.

Dukungan pemerintah dinilai memiliki peran penting dalam menciptakan regulasi yang adaptif, mendorong riset dan pengembangan, serta membuka ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemangku kepentingan terkait.

“Ke depan, kami berharap pemerintah dapat terus memperkuat dukungan terhadap pengembangan teknologi CCS, tidak hanya melalui regulasi, tetapi juga melalui riset, proyek percontohan, dan kolaborasi antara akademisi dan industri.

Dengan ekosistem yang mendukung, inovasi yang dikembangkan di perguruan tinggi dapat memiliki peluang lebih besar untuk diimplementasikan pada kondisi lapangan yang sebenarnya,” ujar Felix.

Selama proses penyusunan karya, salah satu tantangan yang dihadapi adalah memastikan setiap aspek penulisan paper ilmiah memenuhi standar konferensi, baik dari sisi struktur, format, maupun substansi yang disampaikan.

Proses tersebut memberikan pengalaman bagi keduanya untuk lebih memahami bagaimana suatu gagasan teknis disusun dan dikomunikasikan dalam forum profesional yang melibatkan peserta dari berbagai latar belakang di kawasan Asia Pasifik.

Ilham dan Felix menilai keikutsertaan dalam konferensi tersebut turut memperkuat keyakinan mereka bahwa industri drilling akan terus berkembang seiring munculnya berbagai inovasi teknologi, baik dalam aspek operasi maupun perencanaan.

Menurut mereka, transformasi industri ke depan tidak hanya ditentukan oleh perkembangan teknologi, tetapi juga oleh kesiapan ekosistem nasional dalam mengadopsi dan mengembangkan teknologi tersebut.

Bagi keduanya, pengalaman mempresentasikan karya di forum profesional menjadi kesempatan untuk memperoleh exposure terhadap perkembangan industri sekaligus memahami kebutuhan teknologi drilling di masa depan.

Mereka berharap pengalaman tersebut dapat menjadi langkah awal untuk terus berkontribusi dalam pengembangan teknologi yang mendukung keberlanjutan industri minyak dan gas Indonesia.

“Untuk mahasiswa, teruslah berinovasi dan berkarya. Mulailah menulis paper konferensi dan mendapatkan exposure ke dunia profesional sejak masih berada di bangku perkuliahan.

Di sisi lain, kami juga berharap semakin banyak ruang yang diberikan bagi mahasiswa dan akademisi untuk terlibat dalam pengembangan teknologi strategis Indonesia, termasuk CCS,” ujar Ilham.

Komentar Pembaca (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!