KEMENTERIAN TRANSMIGRASI USUNG KONSEP TRANSMIGRASI ERA 5.0 MELALUI PROYEK REMPANG ECO-CITY DENGAN DUKUNGAN RISET AKADEMISI INTERNASIONAL
KAMPUSPERS (12/10/2026) BATAM - Paradigma lama transmigrasi yang sebatas memindahkan penduduk dan membagi-bagikan lahan seluas dua hektar mulai ditinggalkan. Pemerintah berupaya meretas wujud baru transmigrasi era 5.0 yang menekankan integrasi ekonomi, penguatan sosial, serta keberlanjutan lingkungan, dengan proyek percontohan kawasan relokasi transmigrasi Rempang Eco-City, Batam, Kepulauan Riau.
Melalui gelaran Festival Transmigrasi 2026 yang berlangsung pada Sabtu (10/10/2026), pemerintah memperkenalkan pendekatan strategi ekonomi baru.
"Kami punya strategi 'ada gula, ada semut". Kita cetak gulanya terlebih dahulu supaya semutnya datang," kata Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara.
"Kami punya strategi 'ada gula, ada semut". Kita cetak gulanya terlebih dahulu supaya semutnya datang," kata Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara.
Menurut Iftitah, transmigrasi masa kini bukan semata perpindahan fisik penduduk, tetapi misi kemanusiaan untuk meningkatkan taraf hidup warga lokal tanpa mengenyampingkan kearifan setempat.
"Pada prinsipnya orang ingin kehidupan yang lebih baik. Transmigrasi ini adalah misi kemanusiaan," tegasnya.
Lima rekomendasi akademis internasional
Oleh karena itu, pengembangan kawasan transmigrasi Tanjung Banon yang saat ini dihuni 203 kepala keluarga (KK), melibatkan kajian ilmiah komprehensif. Sebanyak 20 mahasiswa dan tiga staf dari Technical University of Munich (TUM), Jerman, melakukan riset lapangan dalam kegiatan Summer School.
Mereka menyusul Tim Ekspedisi Patriot (TEP) yang terdiri dari akademisi Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Diponegoro (Undip), yang sudah terlebih dahulu melakukan riset, kajian kelayakan, dan pendampingan.
Kawasan Transmigrasi Jadi Lumbung Pangan Nasional
Dari hasil analisis selama sepekan di lokasi relokasi, Guru Besar TUM Prof. Dr. Walter Timo de Vries merumuskan lima pilar rekomendasi utama.
Pertama adalah manajemen lahan dan agroforestri dengan optimalisasi lahan pekarangan dan komunal agar tidak ada area tersia-sia, serta penerapan teknik vegetasi untuk mencegah erosi tanah.
Kedua, pengelolaan lingkungan melalui penanganan krisis air bersih dengan memanfaatkan pemanenan air hujan (rainwater harvesting) serta penataan kawasan pesisir.
Ketiga, penguatan komunitas (community hub) melalui penyediaan ruang publik terpadu untuk interaksi warga, kegiatan seni budaya, dan pusat koordinasi sosial.
Keempat, ekonomi bahari (blue tourism) melalui pengembangan pariwisata berbasis konservasi mangrove, pengalaman kehidupan nelayan, dan optimalisasi rantai pasok perikanan.
Kelima, integrasi data geospasial dengan penyatuan data geospasial parsial antara instansi pusat, daerah, dan BP Batam ke dalam satu sistem informasi terpadu guna menjamin kepastian hukum lahan.
Profesor Walter membandingkan pengalamannya saat meneliti proyek transmigrasi di Lampung beberapa dekade lalu. Kala itu, penerima lahan cenderung menjual tanahnya kembali karena terdesak kebutuhan tunai.
"Dulu petani dari Jawa dan Bugis dikasih tanah di Lampung, tapi langsung dijual karena butuh uang untuk sekolah anak. Jadi, tanah saja tidak cukup. Harus dibantu secara menyeluruh mulai dari sosial, ekonomi, dan lingkungan. Ini yang dinamakan transmigrasi 4.0 dan 5.0," ungkap Walter.
Suara warga dan fakta lapangan
Di balik rancangan strategis besar tersebut, fakta di lapangan menunjukkan dinamika sosial yang bertahap, alih-alih instan. Ketua Tim Ekspedisi Patriot UI, Vishnu Juwono, memaparkan hasil survei terhadap 172 kepala keluarga transmigran lokal di Tanjung Banon.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!