DOMPET DHUAFA YOGYAKARTA GELAR DISKUSI NOVEL MATAHARI DI ATAS RANTEMARIO UNTUK REFLEKSI SEJARAH DAN KEBANGSAAN
KAMPUSPERS (17/10/2026) YOGYAKARTA - Dompet Dhuafa Yogyakarta menyelenggarakan diskusi novel Matahari di Atas Rantemario karya Andi Makmur Makka bertema “Sastra, Luka Sejarah, dan Refleksi Kebangsaan” di Ndalem Natan Royal Heritage, Prenggan, Kotagede, Kota Jogja, Sabtu (17/10/2026). Diskusi ini digelar untuk membuka ruang dialog mengenai sejarah, kebudayaan, kemanusiaan, dan kebangsaan melalui karya sastra.
Novel tersebut mengangkat kisah persahabatan Bahar dan Badillah yang harus menempuh jalan berbeda di tengah pergolakan sejarah Indonesia pascakemerdekaan. Kisah keduanya menjadi ruang refleksi untuk memahami kompleksitas sejarah, perbedaan pandangan, nilai-nilai kebudayaan, serta pilihan moral dan kemanusiaan yang menyertainya.
Andi Makmur Makka menyampaikan hampir separuh cerita dalam novelnya berlatar di Yogyakarta. Ia menjelaskan bahwa cerita tersebut disusun berdasarkan riset literatur yang mendalam, termasuk melalui pembacaan berbagai memoar para pejuang.
Menurutnya, Yogyakarta pernah menjadi tujuan para pejuang dari Sulawesi yang ingin bergabung dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka menempuh perjalanan menggunakan perahu layar. Bahkan, beberapa di antaranya tenggelam sebelum mencapai tujuan karena menganggap Yogyakarta sebagai ibu kota sekaligus pusat perjuangan.
Ia menyayangkan nasib para pejuang yang dinilai kurang mendapat perhatian setelah kemerdekaan. Empati tersebut muncul setelah dirinya menelusuri perjalanan karier mereka. Menurut Andi, sejak masa setelah kemerdekaan hingga 1960-an, banyak pejuang yang kurang memperoleh penghargaan dan kesempatan mengembangkan karier, terutama dalam hal kenaikan pangkat.
“Mungkin karena pusat dan daerah masih tajam pada waktu itu, setelah kemerdekaan sampai tahun 60-an, itu mereka sangat, tidak banyak dihiraukan dalam hal kepangkatan, dalam hal karier,” ujarnya dalam diskusi.
Ia menjelaskan, untuk menjadi anggota tentara, terdapat standar organisasi dan kriteria penerimaan militer yang harus dipenuhi. Persyaratan tersebut menjadi kendala bagi sebagian pejuang yang sebelumnya terlibat dalam perlawanan, tetapi tidak semuanya memenuhi ketentuan, seperti kemampuan membaca dan menulis serta persyaratan fisik.
“Para pejuang-pejuang ini pertama kali masuk sebagai anggota-anggota perlawanan, mereka tidak diseleksi. Ada yang buta huruf, ada yang badannya pendek, semua terkena dalam sanksi-sanksi atau peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh TNI,” jelasnya.
Andi mengatakan, perpecahan di antara para pejuang bermula ketika sebagian dari mereka berangkat ke Yogyakarta, sedangkan sebagian lainnya tetap tinggal di daerah asal.
Sekitar 20 tahun kemudian, mereka berada di pihak yang berbeda. Para pejuang yang bertahan di daerah asal bergabung dengan DI/TII, sementara mereka yang pergi ke Yogyakarta bergabung dengan TNI.
Perbedaan pilihan tersebut membuat mereka harus berhadapan dalam konflik. Situasi itu memunculkan konflik batin karena mereka sebelumnya memiliki tujuan perjuangan yang sama, tetapi kemudian harus mempertahankan prinsip dan keyakinan masing-masing yang sulit dipertemukan.
“Dan di situlah konflik batin terjadi. Bagaimana kita harus berhadapan? Anda punya prinsip ini, saya punya prinsip ini, dan tidak bisa dikompromikan. Artinya masing-masing berpegang teguh pada prinsip-prinsipnya, dan akhirnya salah seorang di antara mereka tertembak dan yang menembak itu adalah kawannya sendiri,” paparnya.
Sementara itu, pembahas Gus Nas(ruddin) Anshory menjelaskan bahwa novel tersebut mengangkat kisah persahabatan yang terpecah akibat perbedaan ideologi. Salah satu tokoh menjadi lebih nasionalis setelah berinteraksi dengan lingkungan di Yogyakarta, sedangkan tokoh lainnya cenderung memiliki pandangan yang lebih sektarian.
Menurutnya, perbedaan ideologi membuat kedua tokoh menempuh jalan yang berlainan. Daya tarik novel ini terletak pada kemampuan penulis membangun emosi pembaca sejak awal hingga akhir cerita.
“Ini yang membuat novel ini menarik sebenarnya, penulis sangat berhasil mengirim emosi kita dari awal apa narasi sampai pada akhir. Beliau saya kira mengawinkan episode Jogja dan lainnya macam-macam tidak mudah saya kira,” ungkapnya
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!