KAMPUS PERS
KAMPUSPERS Jurnalistik Independen & Terpercaya

Atribut Pionir UGM Bekal Kreativitas atau Ajang Cuan Panitia Ospek ?

A
Admin Kampuspers 7 Agustus 2026, 08:13 WIB
4 min baca 6 views
Atribut Pionir UGM Bekal Kreativitas atau Ajang Cuan Panitia Ospek ?
"Meskipun penugasan atribut PIONIR UGM didesain untuk melatih mental, kreativitas, dan karakter Gamada, kerumitan yang dinilai tidak realistis justru memicu komersialisasi lewat maraknya jasa joki bahkan diduga melibatkan oknum internal—yang mencederai etika akademik dan prinsip integritas kampus. Fenomena ini mencerminkan komodifikasi pendidikan serta diskoneksi antara idealitas filsafat pendidikan (seperti pragmatisme John Dewey, eksistensialisme, dan pedagogi kritis Paulo Freire) yang mengutamakan proses pembentukan karakter dengan realitas pragmatis yang terjebak pada sekadar hasil fisik dan transaksi materi. Oleh karena itu, panitia didesak mengevaluasi skema penugasan agar PIONIR UGM kembali ke fitrahnya sebagai ruang edukatif yang humanis, inklusif, dan bebas dari celah komersialisasi."

KAMPUSPERSTahun ajaran baru di perguruan tinggi selalu identik dengan riuk-pikuk Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB). Di Universitas Gadjah Mada (UGM), perhelatan bertajuk PIONIR UGM rutin menjadi sorotan publik. Salah satu tradisi yang tak pernah absen dibahas adalah penugasan atribut dan perlengkapan unik yang wajib dibawa oleh para Gadjah Mada Muda (Gamada).

Panitia merancang kerumitan atribut bukan tanpa alasan. Filosofinya sederhana yaitu melatih ketelitian, menguji daya tahan mental, serta memantik kreativitas dan rasa solidaritas antar-mahasiswa baru. Proses merakit penugasan mulai dari papan nama, tas daur ulang, hingga barang-barang bertema khusus, dianggap sebagai kawah candradimuka mini untuk membentuk karakter calon intelektual muda. Ada kebanggaan tersendiri saat seorang Gamada berhasil menuntaskan karyanya di tengah tenggat waktu yang mencekik.

Akan tetapi, realita di lapangan sering kali tak seindah filosofinya. Kerumitan atribut yang dinilai tidak realistis justru melahirkan ruang komersialisasi di balik layar. Fenomena masih ditemukan tawaran "Joki Atribut Ospek" secara terbuka di media sosial dan marketplace menjadi bukti nyata bahwa penugasan ini telah bergeser fungsi. Bagi mahasiswa baru yang terdesak waktu atau yang secara finansial mampu menyewa layanan joki tentunya menjadi jalur pintas yang sangat menggiurkan.

Berdasarkan salah satu pengakuan mahasiswa UGM berinisial T, ia pernah menyaksikan unggahan cerita pada akun sosial media WhatsApp salah satu panitia PIONIR UGM di tahun 2025 menawarkan paket harga layanan joki atribut pada momen menjelang pelaksanaan Pionir Gamada. Selain itu, di media sosial lain seperti instagram, masih didapati akun joki pembuatan atribut / kelengkapan kerajinan tangan yang seharusnya dibuat oleh para calon mahasiswa baru UGM.

Penemuan tersebut menimbul keprihatinan dan tuduhan apakah tingkat kerumitan atribut ini sengaja didesain sedemikian rupa hingga memicu celah "bisnis" yang pasti menguntungkan ? Desas-desus mengenai keterlibatan oknum panitia atau alumni yang memanfaatkan jaringan penugasan untuk mengeruk keuntungan (cuan) pribadi membuat makna edukatif dari penugasan PIONIR UGM kian luntur. Apabila tugas yang tujuannya mengasah kreativitas justru dituntaskan oleh tangan orang lain lewat transaksi uang, maka esensi pendidikan karakter dari maksud penugasan atribut dan esensi kegiatan patut dipertanyakan.

PIONIR UGM seharusnya menjadi ruang yang inklusif dan edukatif, bukan ajang simulasi beban finansial tambahan. Panitia perlu melakukan evaluasi mendalam terhadap efektivitas penugasan atribut tersebut. Kreativitas dan soliditas tidak selalu harus diukur dari seberapa rumit barang yang dibawa, melainkan dari seberapa bermakna proses pembelajaran yang dialami. Sudah saatnya konsep penugasan ospek dikembalikan pada fitrahnya yaitu humanis, rasional, dan bebas dari celah pragmatisme. Jangan sampai nilai-nilai luhur kepioniran menguap begitu saja, kalah oleh transaksi "joki cuan" di balik layar. Apalagi yang meciderainya berasal dari kalangan internal UGM sendiri.

Penggunaan jasa joki atribut dalam PIONIR UGM pada dasarnya tidak dapat dibenarkan, baik dari kacamata etika akademik maupun norma kehidupan kampus. Praktik joki atribut secara langsung mencederai nilai integritas prinsip dasar yang seharusnya dipegang teguh oleh setiap mahasiswa Gadjah Mada Muda. Ketika penugasan yang dirancang untuk menguji kreativitas, ketelitian, daya tahan mental, dan manajemen waktu justru dilimpahkan kepada orang lain demi imbalan materi, maka seluruh esensi pembelajaran serta pembentukan karakter dari kegiatan tersebut hanya menjadi formalitas semata.

Fenomena joki atribut PIONIR UGM ini dapat dibedah melalui beberapa perspektif teori filsafat pendidikan sebagai berikut :

1) Pragmatisme Pendidikan (John Dewey) Dalam pandangan pragmatisme, pendidikan berbasis pada learning by doing proses belajar melalui pengalaman langsung untuk memecahkan masalah. Tugas membuat atribut idealnya menjadi sarana mahasiswa mengembangkan softskills, jika mahasiswa lebih memilih joki demi hasil instan, nilai pengalaman itu menguap sejalan dengan kritik Dewey terhadap pendidikan yang terjebak pada sekadar pencapaian formalistis (hasil akhir/atribut fisik) ketimbang proses pembentukan karakter itu sendiri.

2) Filsafat Moral dan Eksistensialisme Eksistensialisme menekankan kebebasan yang disertai tanggung jawab pribadi dan otentisitas diri. Menggunakan joki adalah bentuk "kebutaan eksistensial" atau melarikan diri dari tanggung jawab akademik. Mahasiswa secara sadar menyerahkan agensi (kemampuannya bertindak) kepada pihak lain demi menghindari beban, yang pada akhirnya mengikis integritas moral mereka sejak hari pertama melangkah di perguruan tinggi.

3) Pedagogi Kritis (Paulo Freire) Berdasarkan sudut pandang pedagogi kritis, fenomena ini memperlihatkan sisi komodifikasi dalam dunia pendidikan. Freire mengkritik sistem pendidikan yang represif dan berorientasi pasar. Jika penugasan dibuat terlampau rumit dan tidak rasional hingga memicu celah "bisnis joki" (erutama jika ada indikasi eksploitasi finansial/cuan oleh oknum, maka kegiatan penugasan tersebut telah bergeser dari alat pendidikan menjadi alat penindasan struktur yang justru menyulitkan mahasiswa, khususnya mereka dari kelas ekonomi menengah ke bawah.

Fenomena joki atribut ini mencerminkan diskoneksi antara idealitas filsafat pendidikan yang mengutamakan proses pembentukan karakter dengan realitas pragmatis yang terjebak pada formalisme dan transaksi material.

Komentar Pembaca (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!