UNESA PERKUAT EKOSISTEM KAMPUS AMAN DARI KEKERASAN MELALUI PROGRAM PEMBEKALAN DAN SATGAS PPK MENYAPA
KAMPUSPERS (29/09/2026) SURABAYA - Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mulai memetakan batas-batas etis interaksi civitas akademika serta memperkuat ekosistem kampus yang aman dari segala bentuk kekerasan.
Langkah strategis ini dimasifkan melalui program pembekalan dan dialog pencegahan kekerasan bagi dosen serta tenaga kependidikan di Fakultas Kedokteran (FK) Unesa, di Gedung FK Unesa, Kampus II Lidah Wetan, pada Senin (28/9/2026) lalu.
Melalui Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK) serta Direktorat Pencegahan dan Penanganan Isu Strategis (PPIS), kampus berjuluk "Rumah Para Juara" ini menginisiasi gerakan "Satgas PPK Menyapa" untuk menyambangi seluruh fakultas secara berkala.
Ketua Satgas PPK Unesa, Iman Pasu Purba, menekankan bahwa Unesa menjadikan berbagai dinamika dan kasus kekerasan di perguruan tinggi nasional sebagai bahan evaluasi fundamental untuk memperketat pengawasan di internal kampus.
"Setiap persoalan yang terjadi di dunia pendidikan tinggi harus menjadi pembelajaran bersama. Unesa bergerak memastikan seluruh dosen dan tenaga kependidikan memahami batas-batas etis berinteraksi agar lingkungan belajar tetap aman dan tidak memicu tekanan bagi siapapun," terang Iman Pasu Purba dikutip dari laman Unesa, Selasa (29/9/2026).
Ia memaparkan enam jenis kekerasan yang menjadi fokus pencegahan Unesa sebagaimana diatur dalam Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024. Meliputi kekerasan fisik, psikis, seksual, perundungan, diskriminasi dan intoleransi, serta kebijakan yang mengandung kekerasan. Sesi dialog interaktif juga menjadi wadah penting untuk menyerap aspirasi dosen.
Salah satunya disampaikan dosen Program Studi Kedokteran Gigi, R. Handi Bramanto, yang menyoroti krusialnya penyediaan ruang aman bercerita guna merespons potensi kecemasan dan masalah kesehatan mental mahasiswa tanpa rasa takut dihakimi.
Direktur PPIS Unesa, Mutimmatul Faidah menegaskan bahwa penciptaan lingkungan kampus yang sehat dan kondusif merupakan gerakan kolektif seluruh warga Unesa, tidak hanya bergantung pada unit teknis semata. Menurut dia, pencegahan dan penanganan kekerasan adalah tanggung jawab bersama seluruh civitas akademika Unesa.
"Kepekaan dosen dan tenaga kependidikan terhadap kondisi mahasiswa menjadi kunci utama dalam membangun budaya saling menghargai," terang dia.
Dalam rangka memberikan jaminan perlindungan penuh, selain gerakan edukasi yang masif dilakukan, Unesa juga menyediakan kanal pengaduan terpadu berbasis WhatsApp, Instagram, dan surel resmi dengan jaminan kerahasiaan identitas pelapor bagi siapa pun yang menyaksikan atau mengalami indikasi kekerasan di lingkungan Unesa.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!