UGM MENGECAM KEKERASAN TERHADAP MAHASISWA SAAT DEMO DI YOGYAKARTA, BERENCANA TEMPUH JALUR HUKUM
KAMPUSPERS (02/09/2026) SLEMAN -Universitas Gadjah Mada (UGM) prihatin dengan kekerasan yang menimpa mahasiswa saat aksi demonstrasi di simpang empat Jalan Jenderal Sudirman, Yogyakarta atau dikenal simpang empat Gramedia pada Selasa (01/09/2026).
Dalam kejadian ini, ada lima mahasiswa UGM dan satu mahasiswa UNY mengalami luka dan sempat dirawat di rumah sakit.
"Saya ingin menyampaikan prihatin atas kejadian kekerasan yang menimpa mahasiswa saat berdemonstrasi, di antaranya beberapa mahasiswa Universitas Gadjah Mada," kata Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat dan Alumni UGM, Arie Sujito, Selasa (2/09/2026).
Menurutnya, segala bentuk kekerasan tidak dibenarkan, karena tindakan tersebut semestinya dapat dicegah.
Apalagi, di lokasi aksi demonstrasi ada pihak kepolisian. "Dan sebetulnya tindakan kekerasan yang dilakukan, saya lihat itu baca beberapa kelompok orang pada mahasiswa itu sebetulnya semestinya bisa dicegah," ucapnya.
"Di situ ada aparat kepolisian yang punya tanggung jawab untuk melindungi mahasiswa maupun masyarakat secara keseluruhan. Dan saya kira ini adalah juga bagian dari tanggung jawab dan memang secara hukum harus dilakukan," imbuhnya.
Ia juga memberikan catatan penting, agar tidak membenturkan mahasiswa dengan kelompok-kelompok masyarakat.
"Dan catatan yang saya kira sangat penting untuk kita garis bawahi adalah jangan benturkan mahasiswa ini dengan kelompok-kelompok masyarakat," tuturnya.
UGM juga berencana menempuh jalur hukum atas kekerasan yang dialami oleh mahasiswa. "Jadi rencananya kayaknya begitu. Lagi nyiapin gitu ya. Tapi sekali lagi pesan terpentingnya itu, siapa pun melakukan kekerasan harus bertanggung jawab," ujarnya. Arie Sujito berharap kejadian kekerasan saat aksi demonstrasi tidak terulang kembali.
Menurutnya, mahasiswa melakukan aksi demonstrasi untuk menyuarakan pikiran dan aspirasi. Hal tersebut merupakan bagian dari sikap kritis merespons situasi yang terjadi baik di daerah maupun nasional.
"Dan saya rasa upaya membenturkan mahasiswa dengan beberapa kelompok masyarakat itu bagian dari cara yang tidak boleh dilakukan. Dan tindakan kekerasan seperti ini sebetulnya justru akan merugikan banyak pihak," tuturnya.
Arie Sujito berharap pimpinan universitas-universitas untuk berkonsolidasi agar para mahasiswa sebagai bagian dari elemen intelektual yang menyampaikan aspirasi terus dilindungi.
"Bagaimanapun juga mahasiswa adalah kelompok intelektual, aktivis yang punya idealisme, punya kepekaan untuk merespons situasi. Karena itu saya berharap juga para pimpinan universitas untuk bersama-sama melindungi para mahasiswa," ucapnya.
Yogyakarta, lanjut Arie Sujito, adalah bagian dari barometer untuk melihat dan mengingatkan tentang demokratisasi. Sikap kritis adalah hal yang memang menjadi bagian penting untuk dijaga.
"Saya berharap Yogyakarta tidak ada kekerasan, Yogyakarta terus mencerminkan ruang kebebasan orang mengekspresikan, menyampaikan sesuatu itu di dalam melihat situasi sosial ekonomi dan politik," ungkapnya
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!