UGM GANDENG WWF INDONESIA GELAR LOKAKARYA STRATEGI KOMUNIKASI PERUBAHAN PERILAKU DEMI WUJUDKAN ZERO WASTE CAMPUS
KAMPUSPERS (07/09/2026) SLEMAN - Universitas Gadjah Mada mendorong perubahan perilaku civitas akademika dalam pengelolaan sampah kampus melalui gerakan Zero Waste Campus guna mewujudkan kampus hijau yang berkelanjutan.
Sekretaris Universitas Gadjah Mada Dr. Andi Sandi Antonius Tabusassa Tonralipu, S.H., LL.M., mengatakan pengelolaan sampah di lingkungan kampus membutuhkan kesamaan perspektif antara universitas, fakultas, dan sekolah.
Menurutnya, persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan infrastruktur, tetapi juga budaya dan kebiasaan sivitas akademika.
“Yang kita inginkan sebenarnya bagaimana menghubungkan fakultas dan sekolah dengan universitas, sehingga kita punya perspektif yang sama.
Untuk persoalan sampah, masalahnya bukan hanya infrastruktur, tetapi juga budaya. Kalau berat, mari mulai dari diri sendiri,” harapnya dalam workshop bertema “Strategi Komunikasi untuk Mendorong Perubahan Perilaku dalam Pengelolaan Sampah Kampus”, Jumat (4/9), di Ruang Mini Studio Humas Universitas Gadjah Mada. Kegiatan ini merupakan wujud kolaborasi UGM dengan WWF Indonesia.
Dalam workshop kali ini, para peserta menyampaikan testimoni dalam pengelolaan sampah di lingkungan Fakultas dan unit kerja masing-masing. Peserta workshop dari Fakultas Teknik, Gusti Purbo Darpito, mengatakan bahwa tempat sampah terpilah telah tersedia di berbagai titik dengan penanda warna dan tulisan.
Namun, sampah plastik dan kertas masih ditemukan tercampur dengan sampah organik. “Tempat sampah yang dipilah menggunakan warna plus tulisan, tidak hanya warna. Aksesnya juga mudah karena di setiap depan kelas sudah ada tempat sampah. Ternyata perilaku pemilahan sampah itu tidak bisa seperti yang diharapkan,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Fardhani dari Fakultas Biologi. Ia mengatakan edukasi mengenai pemilahan sampah telah berulang kali diberikan, termasuk kepada mahasiswa baru.
Namun, dalam praktiknya, sampah masih kerap tidak ditempatkan sesuai dengan jenisnya. “Sudah berulang kali diingatkan agar ditempatkan sesuai, misalnya khusus plastik dan khusus organik.
Akan tetapi, pada kenyataannya para pemandunya sendiri yang nanti memilah sampahnya,” ungkapnya.
Sementara itu, Rimbo Hartanti dari Fakultas Pertanian melihat kondisi yang relatif lebih tertib di lingkungan laboratorium. Menurutnya, ketersediaan tempat sampah yang jelas dan sesuai jenis turut membantu sivitas membuang sampah pada tempatnya.
“Kalau saya lihat, kalau saya mau buang itu sudah lumayan tertib. Ada yang buangnya bentuk plastik, kemudian ada tanah dan kertas, itu tertata,” tuturnya.
Khoirunnisa Azzahra, S.I.Kom., M.A. dari Digital Media and Communication Research Center (Decode) selaku narasumber dalam dalam workshop tersebut memperkenalkan pendekatan Social and Behavior Change Communication (SBCC) sebagai salah satu pendekatan dalam merancang strategi perubahan perilaku.
Menurutnya, strategi komunikasi perlu dimulai dari pemetaan persoalan dan penentuan target perilaku, kemudian dilanjutkan dengan penyusunan pesan dan pemilihan saluran komunikasi yang sesuai. “Strategi tersebut juga perlu diikuti dengan pelaksanaan, pemantauan, serta evaluasi untuk melihat efektivitas perubahan yang dihasilkan,” katanya.
Ia menekankan bahwa perubahan perilaku mahasiswa tidak dapat dicapai secara instan melalui kampanye dalam waktu singkat. Tujuan akhirnya adalah membentuk perilaku baru yang dapat bertahan dan menjadi kebiasaan.
“Perubahan perilaku bukan hanya bagaimana perilaku itu secara instan bisa berubah, tetapi juga menjadi perilaku yang terus menjadi kebiasaan,” pungkasnya.
Selain SBCC, Khoirunnisa memperkenalkan diagram fishbone sebagai metode untuk membantu peserta menemukan akar persoalan dalam pengelolaan sampah. Menurutnya, permasalahan sampah tidak dapat dilihat hanya dari perilaku individu, tetapi perlu ditelusuri melalui berbagai faktor yang saling berkaitan, seperti regulasi, infrastruktur, media komunikasi, hingga budaya.
“Kalau kita ngomong soal pengelolaan sampah, akar penyebabnya itu tidak hanya berasal dari satu masalah, tetapi dari banyak sekali aspek,” jelasnya.
Sementara Sabda Aprilia Budiatmadja dari Creative Hub (CHub) membahas strategi komunikasi dan pemanfaatan media untuk mendorong perubahan perilaku.
Sabdi menjelaskan pentingnya mengelola pesan dan memilih media yang sesuai agar informasi tidak hanya tersampaikan kepada audiens, tetapi juga mampu mendorong mereka melakukan tindakan.
Dalam paparannya, Sabdi juga memperkenalkan strategi social movement campaign melalui sejumlah pendekatan, seperti relatability, visualisasi, hook, dan call to action yang spesifik.
Pendekatan tersebut digunakan untuk membuat pesan lebih dekat dengan audiens sekaligus mengarahkan mereka pada tindakan nyata. “Secara sederhana, mengelola pesan komunikasi dan media adalah proses meramu dan menyampaikan informasi melalui saluran yang tepat agar mudah dipahami, menarik perhatian, dan mampu mengajak orang lain untuk bertindak,” jelas Sabdi.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!