KAMPUS PERS
KAMPUSPERS Jurnalistik Independen & Terpercaya

PAKAR PHARMACY UGM INGATKAN BAHAYA KONSUMSI TANAMAN OBAT TRADISIONAL SEMBARANGAN TANPA TAKARAN YANG TEPAT

A
Admin Kampuspers 7 September 2026, 05:16 WIB
3 min baca 1 views
PAKAR PHARMACY UGM INGATKAN BAHAYA KONSUMSI TANAMAN OBAT TRADISIONAL SEMBARANGAN TANPA TAKARAN YANG TEPAT
"Pakar Biologi Farmasi Fakultas Farmasi UGM, Dr. Djoko Santosa, M.Sc., mengimbau masyarakat untuk tidak menganggap semua tanaman obat tradisional otomatis aman dikonsumsi tanpa pengolahan dan takaran yang tepat. Dalam edukasi bersama Kelompok PKK Padukuhan Karanggayam, Sleman, ia menjelaskan bahwa beberapa tanaman herbal seperti daun sirsak, daun rondo noleh, hingga brotowali justru berisiko memicu gangguan saraf serta kerusakan ginjal jika digunakan sembarangan atau terus-menerus. Djoko menegaskan agar masyarakat lebih bijak memanfaatkan herbal, memilih alternatif yang lebih aman seperti sambiloto ketimbang brotowali untuk jamu pahitan, serta tidak mentah-mentah mengikuti tren pengobatan tradisional di media sosial tanpa berkonsultasi dengan tenaga medis."

KAMPUSPERS (07/09/2026) Pakar Bidang Biologi Farmasi dari Fakultas Farmasi UGM, Dr. Djoko Santosa, M.Sc., mengingatkan agar masyarakat untuk tidak menganggap seluruh tanaman yang dikenal sebagai obat tradisional otomatis aman untuk dikonsumsi.

Sebab, sejumlah tanaman yang dipercaya memiliki khasiat tertentu justru perlu diperhatikan secara hati-hati karena dapat menimbulkan risiko kesehatan apabila dikonsumsi atau diolah tanpa pengetahuan yang tepat.

“Jadi tidak semua yang disebut tanaman obat itu kemudian bagus dan aman untuk kita konsumsi. Ada tanaman-tanaman yang memang harus kita hati-hati dalam penggunaannya karena bisa berisiko bagi tubuh,” jelasnya dalam kegiatan workshop yang bertajuk “Racik Rasa dan Rawat Jiwa” tersebut dilaksanakan bersama Kelompok PKK Padukuhan Karanggayam, di Balai Padukuhan Karanggayam, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (5/9).

Ia mencontohkan daun sirsak, daun rondo noleh atau rondo semoyo yang dikenal sebagai “daun insulin”, daun mindi atau mimbo, serta brotowali yang menurutnya perlu diwaspadai karena dapat berisiko bagi kesehatan.

“Jadi tidak semua yang disebut tanaman obat itu kemudian bagus dan aman untuk kita konsumsi. Ada tanaman-tanaman yang memang harus kita hati-hati dalam penggunaannya karena bisa berisiko bagi tubuh,” jelas Djoko.

Konsumsi daun sirsak secara terus-menerus dapat mempengaruhi saraf dan kesehatan ginjal. Bahkan Daun rondo noleh dan daun mindi perlu dihindari karena turut berisiko terhadap ginjal. Djoko juga mengingatkan masyarakat untuk memastikan bahan yang digunakan dalam jamu pahitan, terutama membedakan brotowali dengan sambiloto.

“Kalau Ibu-ibu mau membeli jamu pahitan, tanya dulu ini yang direbus itu brotowali atau sambiloto. Kalau sambiloto boleh, tapi kalau brotowali saya nggak mau beli,” ujarnya.

Menurut Djoko, penggunaan tanaman obat tetap perlu memperhatikan takaran dan kondisi tubuh. Ia mencontohkan kunyit asam yang dapat dikonsumsi dalam jumlah wajar, tetapi perlu dihentikan apabila menimbulkan reaksi alergi.

Ia juga menganjurkan masyarakat agar tidak mudah mengikuti informasi mengenai pengobatan tradisional yang beredar di media sosial tanpa mengetahui dasar dan keamanan penggunaannya.

Menurutnya, pemanfaatan tanaman obat perlu dilakukan secara bijak dan tidak menggantikan penanganan medis untuk kondisi yang membutuhkan pertolongan tenaga kesehatan.

Dalam kesempatan itu, menyampaikan literasi pemanfaatan tumbuhan obat dan jamu. Ia mengenalkan kembali sejumlah tanaman yang telah lama digunakan masyarakat sekaligus menjelaskan potensi pemanfaatannya untuk menjaga kesehatan.

Menurutnya, pengetahuan mengenai jamu perlu terus dikenalkan agar warisan pengobatan tradisional tersebut tidak hilang dan dapat dimanfaatkan secara tepat.”Masyarakat perlu mengenal pemanfaatan tumbuhan obat yang berada di sekitar lingkungan masing-masing,” jelasnya.

Selain pemanfaatan tanaman obat, kegiatan tersebut juga mengangkat aspek kesehatan mental. Djoko menjelaskan bahwa menjaga kesehatan jiwa dapat dilakukan melalui aktivitas sosial dan keterlibatan dalam kegiatan bersama masyarakat.

“Interaksi melalui komunitas, pengajian, arisan, maupun kegiatan bercocok tanam dinilai dapat menjadi aktivitas yang mendukung kesehatan mental,”katanya.

Komentar Pembaca (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!