KAMPUS PERS
KAMPUSPERS Jurnalistik Independen & Terpercaya

TRAGEDI PERUNDUNGAN DI PEMALANG: SISWA KELAS 2 SD MENINGGAL DUNIA DIDUGA AKIBAT KEKERASAN KAKAK KELAS, KEMDIKDASMEN DAN POLISI USUT TUNTAS KASUS

A
Admin Kampuspers 5 Oktober 2026, 19:54 WIB
6 min baca 4 views
TRAGEDI PERUNDUNGAN DI PEMALANG: SISWA KELAS 2 SD MENINGGAL DUNIA DIDUGA AKIBAT KEKERASAN KAKAK KELAS, KEMDIKDASMEN DAN POLISI USUT TUNTAS KASUS
"Seorang murid kelas 2 SD berusia tujuh tahun berinisial M di SDN 1 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, meninggal dunia pada Rabu (30/09/2026) setelah diduga menjadi korban perundungan, pemalakan, dan pemukulan oleh tiga orang kakak kelasnya saat jam istirahat di sekolah. Kasus yang baru disadari keluarga usai korban mengeluhkan sakit parah pada bagian perut hingga harus menjalani perawatan intensif ini tengah diselidiki secara mendalam oleh Polres Pemalang melalui pemeriksaan saksi, autopsi jenazah, serta pemanggilan terduga pelaku, sementara Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menegaskan komitmen pemerintah untuk menginvestigasi tuntas kejadian ini demi memastikan satuan pendidikan mampu menghadirkan lingkungan yang aman bagi anak sesuai regulasi yang berlaku, di tengah catatan Forum Serikat Guru Indonesia (FSGI) yang mengonfirmasi bahwa kekerasan fisik oleh sesama murid masih mendominasi rentetan kasus kekerasan di lingkungan pendidikan sepanjang tahun ini."

KAMPUSPERS (05/10/2026) PEMALANG - Seorang murid sekolah dasar (SD) di Pemalang, Jawa Tengah, meninggal dunia. Dia diduga menjadi korban perundungan dan kekerasan oleh kakak kelas di sekolahnya.

Orang tua korban mengaku kekerasan yang menimpa anaknya, M, terjadi saat jam istirahat dan dilakukan setidaknya oleh tiga murid lain. Mereka berharap polisi untuk segera mengungkap secara gamblang kasus itu guna memberi keadilan bagi putranya.

Polisi dijadwalkan memeriksa para terduga pelaku perundungan pada Senin (05/10). Sebelumnya, jenazah korban telah diautopsi untuk mengetahui penyebab kematiannya.

Kasus ini menambah panjang rentetan kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan. Forum Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat setidaknya ada 36 kasus kekerasan fisik, dari total 100 kasus kekerasan yang terjadi sepanjang Januari hingga September 2026.

Lalu, apa yang diketahui sejauh ini dari kasus itu dan mengapa kasus kekerasan di sekolah terus berulang?

"Saya sebagai orang tua tidak tahu. Anak kami tak bercerita kalau ternyata seperti itu [dipukuli kakak kelasnya]," ucap Diah Indrianti, ibu dari M, siswa kelas 2 SDN 1 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, pada Minggu (04/10). M yang berusia tujuh tahun meninggal dunia, pada Rabu (30/09), usai diduga menjadi korban pemukulan oleh kakak kelasnya seusai jajan di kantin sekolah.

Padahal, menurut cerita kakak Diah, bernama Yani, keponakannya pemalu dan mandiri. "Dia itu anaknya pendiam, sudah gitu pemalu," katanya. "Terus dia kalau sekolah itu paling semangat, dia pagi-pagi udah bangun sendiri, mandi sendiri, pakai baju sendiri," sambung Yani.

Karena anaknya pendiam, Yani bilang, dirinya dan Diah tidak tahu kalau anaknya menjadi korban bullying di sekolah. Kekerasan yang dialami baru diketahui saat keluarga membawa M menjalani pemeriksaan dokter, pada Kamis (17/09).

Pasalnya, kata Diah, M mengeluhkan sakit perut hingga tidak bisa berjalan. "Dokter lalu bilang ini bukan riwayat penyakit, bukan pula dari pola makanan. Ini semacam ada pukulan di perut," ujar Diah.

"Terus disitu M mulai cerita membuka, sampai saya bilang di sini ada bapak, mama dan pak dokter, kamu enggak usah takut," tiru Diah.

Kemudian, M mengaku bahwa dirinya menjadi korban perundungan oleh tiga orang kakak kelasnya. Terduga pelakunya, kata Diah, adalah dua siswa dari kelas 5 dan satu siswa dari kelas 6.

"M bercerita dia dipukul sama kakak kelas tiga anak," kata Diah.

"Kemudian dokter bilang, Ibu ini harus ke IGD langsung," imbuhnya. Sejak saat itu, M menjalani perawatan selama sembilan hari di RSUD Dr Azhari, Pemalang.

Waktu di rumah sakit, hasil rontgen menunjukkan hasil peradangan. Setelah menjalani perawatan selama intensif, M sempat diizinkan kembali ke rumah.

Namun, kondisi M pada 30 September 2026 kembali memburuk dan meninggal dunia saat dibawa ke rumah sakit.

Diah mengaku sempat menggali informasi dari teman-teman almarhum tentang perundungan itu.

"Kronologinya, M ke kantin, kemudian dari kantin dihadang sama kakak kelasnya dipalakin uang," ucap Diah berdasarkan cerita teman almarhum. "Kemudian temannya ninggalin M, mereka lari dulu dan yang kena itu M," lanjutnya.

"Katanya kejadiannya di depan aula, di situ ia dipukulin sama kakak kelas, kata almarhum itu di situ tiga anak."

Saat almarhum masih menjalani perawatan di RSUD Dr Azhari, Diah mengaku telah melaporkan ke pihak sekolah.

Namun, Diah mengaku kecewa karena pihak sekolah tidak memberikan respon cepat atas permasalahan ini dan diduga berupaya menutupi kasus itu. Mulai dari dugaan ada terduga pelaku yang disembunyikan, hingga pertemuan orang tua wali yang baru dijadwalkan pada 1 Oktober 2026.

"Yang dua pelaku kelas lima sudah mengakui dan yang satu pelaku kelas 6 itu enggak tahu, apa masih dilindungi atau bagaimana," keluhnya.

"Kalau dia enggak bersalah seharusnya dia mau memberikan klarifikasi, Kepseknya tidak memanggil anak itu yang ditunjuk almarhum yang ketiga," sambungnya.

Sementara itu, hingga akhirnya korban meninggal dunia, tidak ada pihak keluarga terduga pelaku yang menemui Diah atau suaminya, untuk menyampaikan permintaan maaf ataupun klarifikasi atas tindakan anaknya. Saat ini, pihak keluarga mengaku telah melaporkan kepada kepolisian atas kasus tersebut.

Menurutnya, saat ini sekolah harus melakukan perbaikan supaya kedepannya tidak terjadi kembali kejadian yang serupa.

"Tolong pihak sekolah bisa perbaiki tentang keamanan, kenyamanan siswa jangan sampai ada seperti ini lagi," tuturnya.

"Termasuk tolong CCTV bisa diperbaiki, kalau perlu disetiap sudut diberi semuanya supaya enggak kecolongan."

Plt Bupati Pemalang, Nurkholes telah mendatangi rumah duka M pada Kamis (01/10). Sebelumnya, ia juga mendatangi sekolah korban untuk mendapatkan informasi mengenai kronologi kejadian.

"Tadi ke sekolahan, dan mendapat laporan kronologi kejadian, memang ada perselisihan antara korban dan pelaku, kemudian terjadilah pemukulan," ujar Nurkholes.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Pemalang, AKP Wildan Umar berkata pihaknya telah meminta keterangan terhadap enam orang, yaitu teman korban, pihak sekolah, dan orang tua korban.

"Dan hari ini [01/10], kami sedang melaksanakan autopsi kepada korban untuk mengetahui penyebab kematian dari korban," kata Wildan.

Polisi juga akan melakukan pemeriksaan kepada terduga pelaku, pada Senin (04/10). "Jika ditemukan adanya unsur pidana, maka akan diproses sesuai hukum yang berlaku," kata Wildan, Jumat (02/10).

Sementara itu, Kepala SD N 1 Kebondalem, Erning Rustini, saat dikonfirmasi enggan berkomentar banyak. "Maaf Mas, semua sudah saya serahkan ke kepolisian (polres)," terang Erning Jumat (02/10).

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan pihaknya tengah menelusuri kasus kematian M. "Kami minta laporan dari BPMP (Balai Penjaminan Mutu Pendidikan) Jawa Tengah dan juga dari Dinas Pendidikan setempat untuk bisa memberikan laporan yang lengkap”, kata Muti, Jumat (02/10).

Menurutnya, setiap kejadian kekerasan yang muncul wajib disikapi melalui investigasi menyeluruh guna mengetahui pemicu mendasarnya secara objektif. Penyelesaian yang ditempuh juga, katanya, harus mengedepankan cara-cara humanis serta menghindari segala bentuk sanksi fisik yang menghukum peserta didik.

Abdul Mu'ti juga menegaskan komitmen pemerintah sesuai Permendikdasmen No 6 tahun 2026, bahwa setiap satuan pendidikan mampu menghadirkan lingkungan fisik, sosial, digital, hingga spiritual yang aman bagi anak.

Kasus M menambah panjang rententan kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan.

Forum Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat setidaknya ada 100 kasus kekerasan di satuan pendidikan sepanjang Januari-September 2026. Pelaku kekerasan mencapai 174 orang yang terdiri dari guru/ustad, kepala sekolah/pimpinan ponpes, satpam, pembina ekskul hingga sesama murid, dengan korban mencapai lebih dari 1000 orang.

Adapun jenis kekerasan terdiri dari kekerasan seksual (60%), kekerasan fisik (36%), kekerasan psikis (1%), perundungan (1%) dan pendisiplinan dengan kekerasan (2%). Pelaku kekerasan seksual di dominasi oleh orang dewasa di sekolah seperti guru/ustad, kepala sekolah/pimpinan ponpes, satpam dan pembina eksul.

"Sejumlah santriwati korban kekerasan seksual hamil, bahkan ada yang melahirkan dalam pondok pesantren tanpa bantuan tenaga medis," kata Ketua Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti, Senin (05/10). Kemudian, kekerasan fisik didominasi oleh sesama murid dan mayoritas berupa pengeroyokan dan penganiayaan.

"Kekerasan fisik ada empat korban pada tahun 2026 ini yang kemudian meninggal dunia setelah beberapa waktu menjalani perawatan di Rumah Sakit, bahkan korban termuda berusia tujuh tahun, murid SD di Pemalang," ujar Retno.

Komentar Pembaca (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!