KAMPUS PERS
KAMPUSPERS Jurnalistik Independen & Terpercaya

MAHASISWA UNESA RAIH BEASISWA CLEC S-1 BAHASA MANDARIN UNTUK STUDI DAN PELATIHAN PENGAJAR DI CHONGQING UNIVERSITY

A
Admin Kampuspers 24 September 2026, 19:00 WIB
2 min baca 13 views
MAHASISWA UNESA RAIH BEASISWA CLEC S-1 BAHASA MANDARIN UNTUK STUDI DAN PELATIHAN PENGAJAR DI CHONGQING UNIVERSITY
"Reyhan Ekaprana Tarigan, mahasiswa S-1 Pendidikan Bahasa Mandarin Universitas Negeri Surabaya (UNESA), berhasil meraih beasiswa The International Chinese Language Teachers Scholarship (CLEC) untuk menjalani studi selama satu tahun di Chongqing University sejak September 2026. Melalui program cakupan penuh ini, Reyhan tidak hanya memperdalam kemampuan bahasa Mandarin tetapi juga metode pengajaran internasional, sembari beradaptasi dengan kehidupan serta ekosistem teknologi lokal di Tiongkok."

KAMPUSPERS (24/09/2026) SURABAYA - Langkah panjang menuntut ilmu membawa Reyhan Ekaprana Tarigan, mahasiswa S-1 Pendidikan Bahasa Mandarin, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (UNESA), menapaki pengalaman akademik baru di negeri asal bahasa yang selama ini dipelajarinya.

Melalui program The International Chinese Language Teachers Scholarship (CLEC Scholarship), Reyhan menjalani satu tahun studi di Chongqing University (CQU) untuk memperdalam bahasa Mandarin sekaligus mempersiapkan diri menjadi pengajar bahasa Mandarin bertaraf internasional.

Dalam program ini, ia memperoleh fasilitas berupa pembebasan biaya pendidikan, asrama, asuransi, serta bantuan biaya hidup selama masa studi. Program ini fokus pada pembelajaran bahasa dan bagaimana cara menjadi guru bahasa Mandarin untuk pengajaran internasional.

"Jadi, saya belajar lebih dalam dari sisi bahasa sekaligus metode pengajarannya," ujar Reyhan.

Perjalanan Reyhan di Chongqing University dimulai sejak 8 September 2026 ketika ia tiba untuk menyelesaikan proses registrasi dan berbagai administrasi awal. Sementara itu, kegiatan perkuliahan resmi dimulai pada 14 September 2026.

Hari-hari pertama di Tiongkok menjadi masa penyesuaian yang penuh warna. Reyhan yang sebelumnya pernah berkunjung ke Tiongkok mengaku lebih siap menghadapi perbedaan budaya, terutama dalam penggunaan teknologi, transportasi, hingga pola kehidupan sehari-hari.

"Dulu saat pertama kali ke China saya cukup bingung karena Google Maps tidak bisa digunakan. Di sini harus memakai aplikasi lokal. Beberapa aplikasi yang biasa digunakan di Indonesia juga harus menyesuaikan karena ada sistem yang berbeda," katanya

Komentar Pembaca (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!