KAMPUS PERS
KAMPUSPERS Jurnalistik Independen & Terpercaya

GEMPA M7,7 GUNCANG FLORES: 43 ORANG TEWAS, UNIKA RUTENG DIRIKAN TENDA DAN TARIK MAHASISWA KKN DARI LOKASI BENCANA

A
Admin Kampuspers 17 Agustus 2026, 16:55 WIB
4 min baca 1 views
GEMPA M7,7 GUNCANG FLORES: 43 ORANG TEWAS, UNIKA RUTENG DIRIKAN TENDA DAN TARIK MAHASISWA KKN DARI LOKASI BENCANA
"Gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026), berdampak pada kerusakan fasilitas publik seperti RSUD Ruteng dan gedung kampus Unika Santo Paulus Ruteng. Hingga Sabtu malam, BNPB mencatat 43 korban jiwa yang tersebar di lima kabupaten (Manggarai 21 orang, Manggarai Timur 17 orang, Sikka 3 orang, Manggarai Barat 1 orang, dan Ngada 1 orang). Menyikapi dampak gempa yang melukai sejumlah mahasiswa, Rektor Unika Santu Paulus Ruteng, Manfred Habur, menarik seluruh peserta KKN demi keselamatan. Meski begitu, pihak kampus mendirikan Posko Tanggap Darurat, memfasilitasi mahasiswa yang ingin menjadi relawan secara sukarela dan terkoordinasi, serta menyiapkan skema KKN Pemulihan pascabencana."

KAMPUSPERS MANGGARAI (17/08/2026) - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026), berdampak pada sejumlah fasilitas publik di Pulau Flores. Di Kabupaten Manggarai, kerusakan terjadi pada Gedung Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ruteng. Kondisi tersebut membuat pelayanan medis dipindahkan sementara ke area terbuka untuk mengantisipasi risiko gempa susulan.

Di tengah situasi yang belum sepenuhnya aman, aktivitas masyarakat juga masih diwarnai getaran kecil. Sejumlah warga memilih berada di luar bangunan karena khawatir terhadap kondisi gedung yang telah mengalami kerusakan.

Situasi serupa terjadi di lingkungan kampus Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santo Paulus Ruteng. Sejumlah mahasiswa memilih mendirikan tenda darurat di luar asrama setelah bangunan asrama mengalami kerusakan dan gedung universitas turut terdampak gempa.

Adapun korban meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertambah. Hingga Sabtu (15/8/2026) malam, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 43 orang meninggal dunia. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan korban meninggal dunia tersebut tersebar di lima kabupaten di Pulau Flores.

Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak, disusul Kabupaten Manggarai Timur. “Update korban gempa meninggal dunia 43 orang,” kata Suharyanto.

Korban meninggal dunia tersebar yaitu Kabupaten Manggarai sejumlah 21 orang, Kabupaten Manggarai Timur sejumlah 17 orang, Kabupaten Sikka sejumlah 3 orang, Kabupaten Manggarai Barat sejumlah 1 orang, Kabupaten Ngada sejumlah 1 orang.

Jumlah tersebut masih berpotensi berubah karena proses pencarian, pendataan, dan verifikasi korban masih berlangsung di sejumlah lokasi terdampak.

Selain pendirian tenda mahasiswa, Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) Santu Paulus Ruteng mengambil langkah cepat menyikapi gempa bumi yang melanda Flores pada 15 Agustus 2026. Setelah mencermati kondisi lapangan dan mempertimbangkan keselamatan mahasiswa, Universitas memutuskan menarik seluruh mahasiswa KKN Tematik Tahun 2026 dari lokasi KKN masing-masing untuk kembali ke tempat yang aman.

Keputusan tersebut diambil menyusul dampak gempa yang terjadi di sejumlah wilayah Flores, termasuk adanya mahasiswa UNIKA yang menjadi korban akibat reruntuhan rumah warga tempat mereka menginap selama menjalankan KKN. Rektor UNIKA Santu Paulus Ruteng, Manfred Habur menegaskan bahwa keselamatan mahasiswa merupakan prioritas utama Universitas.

“Kami menarik mahasiswa dari lokasi KKN bukan berarti UNIKA menarik diri dari masyarakat. Kami menyelamatkan mahasiswa kami, tetapi kami tidak menarik kepedulian dan tanggung jawab kemanusiaan kami terhadap masyarakat yang sedang mengalami bencana,” ujar Rektor.

Penarikan mahasiswa dilakukan untuk memastikan seluruh mahasiswa berada dalam kondisi aman dan tidak terpapar risiko akibat gempa susulan maupun bangunan yang mengalami kerusakan.

Para Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) bersama Panitia KKN diminta memastikan seluruh mahasiswa terdata, memperoleh tempat yang aman, serta mendapatkan pendampingan apabila mengalami luka, kehilangan anggota keluarga, kerusakan tempat tinggal, maupun dampak psikologis akibat bencana.

Namun demikian, Universitas tetap membuka ruang bagi mahasiswa yang dalam kondisi aman dan secara sukarela ingin menjadi relawan kemanusiaan. Mahasiswa yang bersedia menjadi relawan akan ditempatkan secara terkoordinasi dan bukan lagi sebagai bagian dari kewajiban KKN. Mereka akan membantu masyarakat sesuai kompetensi, kebutuhan lapangan, dan arahan pemerintah daerah serta lembaga penanggulangan bencana.

“Kami tidak ingin mahasiswa datang ke lokasi bencana tanpa koordinasi dan justru menambah risiko. Karena itu, kegiatan kerelawanan harus aman, terorganisasi, sesuai kompetensi, dan berada dalam koordinasi dengan pemerintah daerah,” ujar Rektor.

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan kemanusiaan, UNIKA Santu Paulus juga segera membentuk Posko Tanggap Darurat Gempa UNIKA St. Paulus Ruteng. Posko ini akan menjadi pusat koordinasi Universitas dalam melakukan pendataan mahasiswa terdampak, mengorganisasi relawan, memetakan kebutuhan masyarakat, serta mengoordinasikan bantuan dan pelayanan kemanusiaan.

Relawan dari lingkungan UNIKA akan diarahkan untuk mendukung berbagai kebutuhan, antara lain pendampingan anak dan pendidikan, promosi kesehatan, dukungan psikososial, pendataan masyarakat terdampak, distribusi bantuan, serta pendampingan kelompok rentan.

Untuk pekerjaan yang membutuhkan kompetensi dan perlindungan khusus, Universitas tidak akan menempatkan mahasiswa pada kegiatan berisiko tinggi seperti memasuki bangunan rusak atau melakukan operasi pencarian dan penyelamatan. Rektor menegaskan bahwa penarikan mahasiswa tidak berarti UNIKA menghentikan tanggung jawab akademik maupun pengabdian kepada masyarakat. Setelah kondisi darurat memungkinkan, Universitas akan mengevaluasi dan menyiapkan skema keberlanjutan KKN Tematik, termasuk kemungkinan mengembangkan program KKN Tanggap, Pemulihan dan Ketangguhan Masyarakat Pascagempa Flores. “Dalam situasi bencana, pendidikan tidak boleh kehilangan relevansinya. Mahasiswa belajar bukan hanya dari buku dan ruang kelas, tetapi juga dari bagaimana ilmu pengetahuan digunakan untuk membantu manusia. Namun, bantuan itu harus dilakukan dengan cara yang aman dan bertanggung jawab,” jelas Rektor. UNIKA juga akan memberikan perhatian khusus kepada mahasiswa yang menjadi korban atau terdampak langsung bencana agar tidak mengalami kerugian akademik akibat kondisi yang berada di luar kendali mereka. UNIKA Santu Paulus memandang bencana gempa Flores bukan hanya sebagai persoalan kemanusiaan, tetapi juga sebagai panggilan bagi perguruan tinggi untuk menghadirkan ilmu pengetahuan, solidaritas dan pengabdian secara nyata. “Kami ingin UNIKA hadir bukan hanya ketika keadaan normal. Justru dalam situasi sulit seperti sekarang, kampus harus menunjukkan bahwa ilmu, iman dan solidaritas dapat menjadi kekuatan untuk membantu masyarakat bangkit kembali,” pungkas Rektor. UNIKA Santu Paulus mengajak seluruh sivitas akademika untuk tetap tenang, menjaga keselamatan, mengikuti informasi resmi pemerintah, serta bersama-sama membangun solidaritas bagi masyarakat yang terdampak bencana.

Komentar Pembaca (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!