DOSEN FISIP UI PERINGATKAN BAHAYA PENGGUNAAN AI BERLEBIHAN BAGI MAHASISWA
KAMPUSPERS (19/09/2026) DEPOK - Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah begitu melekat dan berdampingan dengan kehidupan manusia masa kini. AI dipakai berbagai kalangan untuk membantu pekerjaan. Termasuk oleh mahasiswa dalam mengerjakan tugas kuliah karena kecepatannya dalam memberikan informasi atau jawaban.
Di balik itu, penggunaan AI berlebihan dan tanpa tujuan yang jelas dapat berefek ke kemandirian kognitif, kemampuan memahami konteks, dan penguasaan kompetensi individu.
Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP Universitas Indonesia) UI, Dr. Erwin Agustian Panigoro, M.M, mengingatkan penggunaan teknologi yang tidak disertai pemahaman dan tujuan dapat memicu fenomena.
Seperti brain rot, cognitive offloading, attention economy, hingga popcorn brain. Karakteristik manusia adalah mudah mengingat informasi Brain rot adalah kondisi saat seseorang terlalu banyak mengonsumsi konten digital yang dapat memengaruhi kemampuan untuk berpikir dan beraktivitas secara mandiri.
Sementara itu, cognitive offloading merupakan kecenderungan individu untuk semakin bergantung pada teknologi dalam menyimpan, mengolah, maupun mengingat informasi.
“Jangan buru-buru mengklaim bahwa saya mengalami ini atau itu. Kita perlu memahami konteksnya terlebih dahulu. Salah satu karakteristik manusia adalah mudah mengingat informasi yang diterimanya melalui media. Karena itu, fenomenanya perlu dipahami secara kritis sebelum seseorang memberikan label kepada dirinya sendiri,” ujar Erwin, Kamis (10/9/2026) , dikutip dari situs FISIP UI, Kamis (17/9/2026).
Perkembangan teknologi digital tak dapat dipungkiri membuat waktu, perhatian, pengetahuan, kompetensi, dan keterampilan pengguna "diperebutkan" oleh berbagai platform digital.
Kondisi inilah yang memunculkan attention economy atau perhatian pengguna menjadi sumber daya yang memiliki nilai.
Fenomena popcorn brain Ada pula fenomena popcorn brain di mana saat seseorang menggunakan media sosial berpindah secara cepat dari satu platform ke platform lainnya tanpa menyelesaikan atau memahami informasi secara utuh. Kebiasan ini jika dilakukan terus-terusan maka berpeluang mengganggu perhatian pengguna menjadi terpecah-pecah.
Tidak harus dihindari, tetapi sebagai alat bantu Penggunaan AI tidak perlu sampai harus dihindari. AI bisa diandalkan sebagai alat bantu pendukung proses berpikir dan belajar. Proses belajar itu salah satunya berasal dari proses penggunaan prompt.
Jika pelajar dapat merancang prompt yang baik berarti ia dapat merumuskan pertanyaan, mengembangkan gagasan, serta mengevaluasi informasi yang dihasilkan. Di sisi lain, dosen tetap memiliki peran penting untuk mengajak mahasiswa berdiskusi dan memperdalam pokok materi.
Penggunaan AI sebagai generator konten sebaiknya dilakukan secara kontekstual. Kendati tugas kuliah dapat selesai dengan bantuan teknologi, mahasiswa tetap harus memiliki kemampuannya dalam memahami hasil yang terpampang dalam tugasnya.
Mahasiswa juga disarankan untuk menjadi intentional user, maksudnya pengguna AI yang memiliki tujuan jelas ketika memilih dan menggunakan teknologi tersebut.
Penggunaan setiap aplikasi perlu berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar karena tersedia atau sedang populer. “Ketika kita memutuskan menggunakan sebuah aplikasi, harus ada tujuannya.
Kita harus tahu apa yang ingin kita lakukan dan mengapa menggunakan aplikasi tersebut,” jelas Erwin.
Konsep ini menekankan bahwa teknologi dan AI sebagai alat yang memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikan proses berpikir.
Penggunaan AI sebagai generator konten sebaiknya dilakukan secara kontekstual. Kendati tugas kuliah dapat selesai dengan bantuan teknologi, mahasiswa tetap harus memiliki kemampuannya dalam memahami hasil yang terpampang dalam tugasnya.
Gunakan hanya saat ada tujuan Mahasiswa juga disarankan untuk menjadi intentional user, maksudnya pengguna AI yang memiliki tujuan jelas ketika memilih dan menggunakan teknologi tersebut.
Penggunaan setiap aplikasi perlu berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar karena tersedia atau sedang populer. “Ketika kita memutuskan menggunakan sebuah aplikasi, harus ada tujuannya. Kita harus tahu apa yang ingin kita lakukan dan mengapa menggunakan aplikasi tersebut,” jelas Erwin.
Konsep ini menekankan bahwa teknologi dan AI sebagai alat yang memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikan proses berpikir.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!