KAMPUS PERS
KAMPUSPERS Jurnalistik Independen & Terpercaya

MAHASISWA UII KEMBANGKAN RESPIRATB, PLATFORM WEARABLE BERBASIS SENSOR UNTUK SKRINING AWAL TUBERKULOSIS

A
Admin Kampuspers 3 Oktober 2026, 20:52 WIB
3 min baca 1 views
MAHASISWA UII KEMBANGKAN RESPIRATB, PLATFORM WEARABLE BERBASIS SENSOR UNTUK SKRINING AWAL TUBERKULOSIS
"Tiga mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta yang terdiri atas Afwan Aditya Saputra (Informatika), Huda Nur Ihsan Muhammad Akbar (Manajemen Rekayasa), dan Isfana Fatimah Darman (Kedokteran) berhasil mengembangkan RespiraTB, sebuah platform wearable berbasis sensor accelerometer dan mikrokontroler ESP32 untuk memantau karakteristik pernapasan secara real-time dan non-invasif guna mencegah keterlambatan diagnosis tuberkulosis (TBC). Di bawah bimbingan Ali Parkhan dalam ajang The 12th UTU Awards 2026, inovasi yang mencatatkan akurasi pembacaan respiratory rate hingga 96,28 persen ini dirancang bukan untuk menggantikan diagnosis medis resmi, melainkan sebagai alat skrining awal dan pemantauan kontinu bagi masyarakat sebelum memeriksakan diri secara profesional ke fasilitas kesehatan."

KAMPUSPERS (03/10/2026) YOGYAKARTA - Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta mengembangkan RespiraTB, platform wearable berbasis sensor accelerometer yang dirancang untuk memantau karakteristik pernapasan secara non-invasif dan real-time. Perangkat ini ditujukan sebagai sarana skrining awal agar masyarakat dengan gejala yang mencurigakan tuberkulosis (TBC) tidak menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.

RespiraTB dikembangkan oleh Afwan Aditya Saputra dari Program Studi Informatika, Huda Nur Ihsan Muhammad Akbar dari Manajemen Rekayasa, dan Isfana Fatimah Darman dari Kedokteran. Inovasi tersebut dikembangkan di bawah bimbingan Ali Parkhan melalui riset kewirausahaan dalam ajang The 12th UTU Awards 2026.

Ketua Tim, Afwan Aditya Saputra, mengatakan pengembangan RespiraTB berangkat dari persoalan keterlambatan diagnosis TBC. Menurut dia, gejala awal seperti batuk atau sesak napas ringan masih kerap dianggap sepele sehingga pemeriksaan baru dilakukan ketika kondisi pasien memburuk.

"Pengembangan RespiraTB dilatarbelakangi persoalan keterlambatan diagnosis TBC. Kami melihat gejala awal seperti batuk atau sesak napas ringan kerap dianggap tidak serius oleh masyarakat," ujar Afwan, Jumat (2/10/2026).

Ia menambahkan, teknologi wearable pada RespiraTB diposisikan sebagai sarana pemantauan kontinu sehingga kondisi pernapasan dapat dipantau sejak dini.

Cara Kerja RespiraTB

Secara teknis, RespiraTB menggunakan sensor accelerometer/IMU untuk mengukur perubahan gerakan mekanis dinding dada dan aktivitas otot bantu pernapasan. Data tersebut kemudian diproses menggunakan mikrokontroler ESP32 dan algoritma filtering serta sistem skoring berbasis ambang statistik.

Hasil pemrosesan dikirim secara nirkabel ke aplikasi mobile melalui Firebase. Dengan mekanisme tersebut, perangkat dirancang untuk menghasilkan pemantauan karakteristik pernapasan secara kontinu dan non-invasif.

Anggota Tim dari Prodi Kedokteran, Isfana Fatimah Darman, menegaskan RespiraTB tidak dimaksudkan untuk menggantikan dokter maupun diagnosis medis resmi.

"RespiraTB bukan perangkat untuk menggantikan diagnosis medis. Sistem tersebut dirancang sebagai alat skrining awal dengan mengukur indeks risiko pernapasan berdasarkan respiratory rate dan work of breathing," kata Isfana.

Ia menjelaskan diagnosis definitif TBC tetap membutuhkan pemeriksaan medis profesional di fasilitas kesehatan.

Akurasi Pengujian RespiraTB

Pengujian di laboratorium menunjukkan RespiraTB memiliki akurasi pembacaan respiratory rate (RR) sebesar 96,28 persen jika dibandingkan dengan penghitungan manual. Deviasi maksimal hasil pengukuran tercatat satu napas per menit.

Sensor MPU6050 juga mencatatkan akurasi 92,08 persen terhadap metode Esophageal Pressure Catheter (Pes). Sementara itu, transmisi data dari ESP32 menuju aplikasi mobile memiliki tingkat keberhasilan 100 persen dengan waktu transmisi rata-rata 2,2 detik.

Dari sisi pengembangan bisnis, anggota Tim dari Prodi Manajemen Rekayasa, Huda Nur Ihsan Muhammad Akbar, mengatakan RespiraTB membidik pasar melalui pendekatan business-to-business (B2B) dan business-to-consumer (B2C).

Riset tim memproyeksikan Total Addressable Market (TAM) mencapai Rp1,035 triliun per tahun. Untuk tahap awal, pasar yang ditargetkan berada di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

"Pada tahun pertama, kami menargetkan penjualan sebanyak 1.380 unit dengan harga Rp950.000 per unit atau sekitar Rp1,31 miliar," terang Huda.

Ia menyebutkan skema kolaborasi B2B akan menyasar Dinas Kesehatan, dana BOK puskesmas, serta organisasi seperti Stop TB Partnership Indonesia dan Global Fund.

Masih Membutuhkan Validasi Klinis

Dosen Pembimbing, Ali Parkhan, mengapresiasi keunggulan serta kebaruan (novelty) riset yang dikembangkan mahasiswa UII tersebut.

"Novelty penelitian ini terletak pada pengembangan platform wearable berbasis accelerometer/IMU yang mengintegrasikan pemantauan respiratory rate dan work of breathing secara kontinu dan non-invasif," jelas Ali Parkhan.

Ia menambahkan penggabungan data fisiologis dengan gejala subjektif melalui algoritma skoring dapat menghasilkan indeks risiko pernapasan secara real-time.

Sementara itu, Dekan Bidang Kemahasiswaan, Keislaman, dan Kealumnian FTI UII, Agus Mansur, menyatakan pihak fakultas mendukung pengembangan tahap lanjutan RespiraTB.

"Pengembangan selanjutnya masih membutuhkan validasi klinis dalam skala lebih luas, pembuatan prototipe fisik, serta proses perizinan dan sertifikasi alat, termasuk pengajuan izin edar kepada Kementerian Kesehatan RI," ungkap Agus Mansur.

Pihak fakultas berharap inovasi tersebut dapat menjadi bagian dari solusi pemantauan kesehatan yang praktis, terjangkau, serta mendukung deteksi dini TBC nasional.

Komentar Pembaca (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!