HARRY TRUMAN SIMANJUNTAK BERI CATATAN KRITIS TERHADAP BUKU SEJARAH INDONESIA GARAPAN KEMENTERIAN KEBUDAYAAN
KAMPUSPERS (28/09/2026) ARKEOLOG - Harry Truman Simanjuntak memberikan catatan kritis terhadap substansi buku Sejarah Indonesia : Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global garapan Kementerian Kebudayaan.
Harry Truman Simanjuntak mengkritik substansi buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global yang digarap Kementerian Kebudayaan. Salah satu yang menjadi perhatiannya mengenai jilid pertama buku tersebut yang terdiri dari enam bab dan 1.163 halaman.
Truman menyorot dari aspek akademik yang mencakup masalah fundamental, landasan teoritis, dan metodologi dalam penyusunan buku Sejarah Indonesia versi pemerintah ini. Dia mengatakan klaim pemerintah perihal Indonesia sebagai episentrum dari peradaban dunia atau out of Nusantara adalah keliru.
“Dilihat dari manapun, Afrika yang (menjadi) asal-usul manusia dan perkembangan dari budaya sampai ke masa sekarang,” kata Truman dalam diskusi di kawasan Jakarta Pusat pada Selasa, 22 September 2026. Ia pun menyebut materi yang ditulis di dalam jilid satu buku itu sebagai kemunduran yang nyata.
Truman menuturkan manusia sudah muncul di Afrika sejak dua tahun yang lalu. Sementara manusia purba baru muncul di Indonesia sejak 1,5 juta tahun yang lalu. “Tim penyusun menggembor-gemborkan bahwa homo erectus sudah ada di Indonesia 1,8 juta tahun, tapi tidak ada bukti otentik, bukti tanggal yang mengkonfirmasi klaim itu,” ucapnya.
Secara rinci jilid pertama yang diberi judul Akar Peradaban Nusantara ini menampilkan fondasi ekologis, antropologis, serta kultural dari sejarah panjang kawasan Nusantara. Peristiwa yang diulas pada jilid satu itu sebelum adanya perjumpaan budaya dengan peradaban global seperti India, Tiongkok, dan Persia.
Para penyusun jilid pertama buku Sejarah Indonesia ini juga menarasikan dinamika geologis dan klimatologis sudah membentuk lingkungan hayati yang kaya dan menantang. Dalam bahasan yang sama, dinamika itu telah membentuk manusia purba dan modern yang membangun kehidupan lewat migrasi, adaptasi ekologis, kepercayaan, hingga teknologi awal berupa bercocok tanam dan peleburan logam.
Jilid satu ini juga menggambarkan tradisi maritim serta pemukiman pesisir sebagai simpul peradaban yang terbuka atas pertukaran budaya lintas wilayah.
Dia juga menyorot penggunaan semboyan reinventing Indonesia identity dalam penulisan buku sejarah versi pemerintah ini. Menurut dia, istilah itu membingungkan sebab seolah penulis buku dari proyek Kemenbud ini menemukan kembali identitas Tanah Air.
Pemakaian semboyan tersebut ia nilai menimbulkan multi interpretasi lantaran tak digunakan dalam porsi yang tepat. “Apakah para peneliti sebelumnya tidak berbuat apa-apa dalam menggali identitas Indonesia? Apakah identitas yang sudah ada itu salah?” ucapnya.
Truman turut menyorot klaim Indonesia-sentris dalam penyusunan buku sejarah Indonesia versi pemerintah ini. Menurut dia, klaim tersebut seolah untuk membantah penelitian yang dilakukan bangsa kolonial atau asing ketika itu. Padahal, kata dia, penelitian asing tidak serta-merta dilakukan untuk memanipulasi bahkan menghapus data yang ada di Indonesia.
Hasil penelitian kolonial itu, kata dia, sampai hari ini masih digunakan oleh Indonesia. Dia mencontohkan pada bidang prasejarah, para peneliti kolonial berhasil menggali kekayaan maupun potensi Indonesia di masa tersebut. “Kita harus mengakui itu. Tanpa ada penelitian asing di Indonesia, kita belum mengerti apa-apa yang namanya prasejarah,” ujar Truman.
Walhasil, klaim Indonesia-sentris di penyusunan buku Sejarah Indonesia ini ia nilai terlalu mengglorifikasi bangsa. Semestinya, kata Truman, tim penyusun berpatokan pada data dalam membicarakan ihwal ilmu pengetahuan seperti sejarah. Aspek landasan teori dan substansi akademik, khususnya pada jilid satu buku Sejarah asional Indonesia juga memuat persoalan penting.
Truman menyinggung penggunaan istilah akar peradaban untuk menggambarkan kehidupan Nusantara kala itu. Dia menjelaskan, akar peradaban didefinisikan sebagai kehidupan yang masih sederhana atau belum mencapai kompleksitas.
Padahal, Truman menjelaskan bahwa sejak 4 ribu tahun yang lalu kehidupan di Nusantara pada dasarnya sudah kompleks. Puncaknya di era megalitikum dan pengenalan atau penyerapan budaya logam. Kehidupan yang semacam itu lebih tepat disebut sebagai prasejarah, bukan peradaban.
“Jadi banyak fondasi teoritis yang hilang karena (peradaban) itu. Konstruksi teoritis prasejarah yang sudah terbangun puluhan tahun bahkan sejak zaman kolonial terus disempurnakan, hilang dalam buku ini,” ujar Truman.
Jilid satu buku sejarah Indonesia versi pemerintah juga dinilai memiliki banyak bagian yang hilang atau tidak diuraikan secara detail. Truman mengkritik logika tim penyusun dalam merekonstruksi kehidupan masa lampau yang terjadi sejak berjuta-juta tahun lalu itu. “Jangan heran nanti kalau membaca buku ini kayak melihat laporan,” ucap Truman.
Penyusunan buku yang mulai digagas di awal pemerintahan Prabowo Subianto itu melibatkan 123 ahli yang terdiri dari penulis, editor jilid, dan editor umum. Kementerian Kebudayaan menggandeng ratusan orang itu dari 34 perguruan tinggi dan 11 lembaga non-kampus. Penyusunnya berasal dari pelbagai latar belakang keilmuan, seperti sejarawan, arkeolog, filologi, epigrafi, hingga genetika.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menuturkan misi besar yang hendak dicapai dalam penulisan buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global ini mengubah paradigma lama. Menurut dia, semestinya sejarah tidak lagi sekadar dinarasikan sebagai hafalan tanggal ataupun nama tokoh.
“Namun instrumen untuk mengasah nalar kritis, memahami akar persoalan kontemporer, dan memetakan arah masa depan bangsa melalui ruang dialog yang sangat terbuka,” ucap politikus Partai Gerindra dalam keterangannya, Jumat, 4 September 2026.
Fadli Zon menuturkan tiap jilid di buku Sejarah Indonesia disusun secara kronologis dan tematik. Keseluruhan serinya, ujar dia, menggambarkan kesinambungan, perubahan, hingga dinamika perjalanan Tanah Air.
“Lima jilid pertama buku ini membawa pembaca menelusuri perjalanan panjang Nusantara sejak akar peradaban hingga terbentuknya kesadaran kebangsaan,” ujar Fadli.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!