KAMPUS PERS
KAMPUSPERS Jurnalistik Independen & Terpercaya

GURU SMAN 1 SENDAWAR KEMBANGKAN INOVASI "DETEKTIF SAINS" BEBASIS AI DAN TRACKER VIDEO UNTUK PEMBELAJARAN FISIKA JARA JAUH

A
Admin Kampuspers 28 September 2026, 12:27 WIB
3 min baca 9 views
GURU SMAN 1 SENDAWAR KEMBANGKAN INOVASI "DETEKTIF SAINS" BEBASIS AI DAN TRACKER VIDEO UNTUK PEMBELAJARAN FISIKA JARA JAUH
"Desi Susanti (41), guru Fisika di SMAN 1 Sendawar, Kutai Barat, Kalimantan Timur, berhasil menciptakan inovasi model pembelajaran bernama "Detektif Sains" yang memadukan aplikasi Tracker Video Analysis dan chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) guna mengatasi kendala pembelajaran jarak jauh di tengah bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Berawal dari modifikasi model pembelajaran masa pandemi Covid-19, metode ini mengubah ruang kelas menjadi ruang penyelidikan di mana siswa dapat melakukan eksperimen gerak benda serta berkonsultasi mengenai materi Fisika secara otomatis kapan saja. Berkat dedikasi dan efektivitas pembelajarannya yang mampu menjadi solusi saat keterbatasan alat praktikum, Desi terpilih sebagai salah satu dari 20 penerima penghargaan Mentari National Awards for Educators (MNAE) 2026 yang diselenggarakan oleh Mentari Group di Jakarta pada Sabtu, 26 September 2026."

KAMPUSPERS (28/09/2026) JAKARTA - Desi Susanti kerap menyempatkan waktu untuk merenung mencari solusi mengatasi kebuntuan pembelajaran sehari sebelum kegiatan belajar mengajar dilakukan.

Guru mata pelajaran Fisika di SMA Negeri 1 Sendawar, Kutai Barat, Kalimantan Timur, tersebut salah satunya mencari solusi untuk memberikan pembelajaran efektif kepada para siswanya, di tengah kepulan asap yang menyelimuti Kalimantan Timur akibat kebakaran hutan dan lahan beberapa waktu belakangan.

"Saya selalu menyempatkan waktu tiap malam meski itu waktu untuk keluarga," kata dia usai mendapatkan penghargaan Mentari National Awards for Educators (MNAE) 2026 di Jakarta, Sabtu, 26 September 2026.

Kondisi kebakaran hutan dan lahan membuat sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh kepada siswa di Kalimantan Timur. Perempuan berusia 41 tahun ini menyadari bahwa pembelajaran Fisika tidak efektif tanpa pertemuan tatap muka. Menurut Desi, pembelajaran Fisika tidak cukup hanya menyampaikan teori. "Perlu eksperimen juga," kata dia.

Berdasarkan perenungan itu, Desi memodifikasi model pembelajaran yang sebelumnya dia kembangkan saat pandemi Covid-19. Inovasi pembelajaran itu bernama Detektif Sains. Model tersebut mengubah ruang kelas menjadi tempat penyelidikan.

Siswa berperan sebagai detektif yang bertugas memecahkan persoalan berdasarkan konsep Fisika. Persoalan dipecahkan melalui kegiatan mengamati, mencari informasi, berdiskusi, melakukan eksperimen, hingga menarik kesimpulan.

Desi mengembangkan Detektif Sains pada 2024 dan memberinya nama Detektif Sains 1.0. Setahun kemudian, model tersebut dikembangkan menjadi Detektif Sains 2.0 dengan memanfaatkan lebih banyak teknologi digital.

Pada tahap awal, Desi menerapkan model tersebut untuk mengajarkan materi kinematika atau gerak. Dia melihat materi gerak selama ini hanya diajarkan sebagai teori. "Sehingga siswa mudah kehilangan minat," kata dia.

Dia kemudian memanfaatkan aplikasi Tracker Video Analysis untuk membantu mengukur gerak benda, termasuk kecepatan. Dalam pengembangannya, Desi memanfaatkan chatbot berbasis akal imitasi (AI). Aplikasi ini dirancang untuk merespons pesan secara otomatis.

Dalam praktiknya, Desi memanfaatkan aplikasi itu supaya siswa bisa bertanya kapan pun mengenai pembelajaran. Pertanyaan siswa akan dijawab secara otomatis oleh teknologi tersebut. Namun, sebelum itu, Desi mesti menyiapkan data dan kemungkinan pertanyaan yang akan diajukan siswa.

"Penggunaan teknologi itu menjadi solusi ketika sekolah tidak memiliki peralatan praktikum yang dibutuhkan," kata dia.

Kini, di tengah kepulan asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, Desi kembali menggunakan teknologi itu. Salah satunya digunkan untuk mempelajari gerak benda.

Siswa dapat merekam video sebuah bola yang dijatuhkan. Video tersebut kemudian dianalisis menggunakan aplikasi Tracker untuk mengukur ketinggian dan pergerakan bola.

Desi merupakan satu dari 20 pendidik terpilih sebagai penerima Mentari National Awards for Educators (MNAE) 2026. Para penerima penghargaan menghadirkan beragam praktik pendidikan yang dikembangkan untuk menjawab tantangan pembelajaran dan kebutuhan di sekolah masing-masing.

MNAE 2026 diselenggarakan oleh Mentari Group sebagai bentuk apresiasi bagi para pimpinan sekolah dan pendidik yang telah menunjukkan dedikasi, kontribusi, dan kerja nyata dalam menghadirkan dampak positif bagi dunia pendidikan melalui praktik baik, inovasi pembelajaran, kepemimpinan sekolah, serta pemanfaatan teknologi.

Berlandaskan seluruh peserta, 10 pendidik menerima Mentari Changemaker Awards, 5 penerima Mentari Leadership Awards, dan 5 penerima Mentari Educator Awards. Executive Director Mentari Group, Natalina Rimba, berharap penghargaan tersebut dapat menjadi dorongan bagi para pendidik untuk terus berkarya dan berbagi inovasi di bidang pendidikan.

Kapokja Dikdasmen BAN PDM 2023–2026, Andri Nurcahyani, mengatakan praktik baik penting agar berbagai pengalaman pendidik dapat menjadi sumber pembelajaran yang lebih luas.

"Guru dan kepala sekolah di berbagai daerah memiliki cara dan pendekatan yang beragam dalam menjawab tantangan pendidikan di lingkungan masing-masing.

Praktik-praktik tersebut penting untuk dikenali dan diapresiasi karena menunjukkan upaya nyata pendidik dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengelolaan sekolah," ujar Andri.

Komentar Pembaca (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!